Riky Kurniawan

Transcript: Oprah Speech at Stanford University

1 year, 2 months ago - Tag: Dream, Profile - No Comment (0)

“Thank you, President Hennessy, and to the trustees and the faculty, to all of the parents and grandparents, to you, the Stanford graduates. Thank you for letting me share this amazing day with you.

I need to begin by letting everyone in on a little secret. The secret is that Kirby Bumpus, Stanford Class of 2008, is my goddaughter. So, I was thrilled when President Hennessy asked me to be your Commencement speaker, because this is the first time I’ve been allowed on campus since Kirby’s been here.

You see, Kirby’s a very smart girl. She wants people to get to know her on her own terms, she says. Not in terms of who she knows. So, she never wants anyone who’s first meeting her to know that I know her and she knows me. So, when she first came to Stanford for new student orientation with her mom, I hear that they arrived and everybody was so welcoming, and somebody came up to Kirby and they said, “Ohmigod, that’s Gayle King!” Because a lot of people know Gayle King as my BFF (best friend forever).

And so somebody comes up to Kirby, and they say, “Ohmigod, is that Gayle King?” And Kirby’s like, “Uh-huh. She’s my mom.”

And so the person says, “Ohmigod, does it mean, like, you know Oprah Winfrey?”

And Kirby says, “Sort of.”

I said, “Sort of? You sort of know me?”

Well, I have photographic proof. I have pictures which I can e-mail to you, all of Kirby riding horsey with me on all fours. So, I more than sort-of know Kirby Bumpus. And I’m so happy to be here, just happy that I finally, after four years, get to see her room. There’s really nowhere else I’d rather be, because I’m so proud of Kirby, who graduates today with two degrees, one in human bio and the other in psychology. Love you, Kirby Cakes! That’s how well I know her. I can call her Cakes.

And so proud of her mother and father, who helped her get through this time, and her brother, Will. I really had nothing to do with her graduating from Stanford, but every time anybody’s asked me in the past couple of weeks what I was doing, I would say, “I’m getting ready to go to Stanford.”
(more…)

Decoding the barcode

1 year, 2 months ago - Tag: Technology - Comment (1)

Rihlah YISC F ke P. Seribu

1 year, 2 months ago - Tag: Community, Fun, Love, Opinion, Photography, Travelling - Comment (3)

Sabtu-Minggu (13-14 Juni) lalu, gue dan kawan-kawan dari YISC mengadakan acara perpisahan di luar kota.

Pulau Seribu adalah tujuan kami.

Ini berawal dari hasutan ajakan gue kalo mereka harus melakukan sesuatu out-of-the routines, something new that they will remember all the time. Gue menantang mereka melakukan snorkeling. Tidak bisa berenang bukan alasan untuk tidak bisa menikmati keindahan bawah laut dan ciptaan Alloh SWT.

Ide ini disambut beberapa orang dengan antusias. Tapi ada yang tidak begitu antusias karena alasan biaya dan waktu. Di minggu akhir, rencana hampir saja berantakan karena dari target 10 orang yang ikut hanya 4 orang saja yang konfirmasi pasti ikut. Padahal gue udah menghubungi kenalan yang ada di sana untuk menyediakan tempat tinggal, makanan, peralatan snorkeling dan sewa kapal.

(Nyaris) Gagal ini sedikit membuat gue senang karena minggu depan gue mau UTS, jadi paling tidak ada sedikit waktu untuk belajar dan menghabiskan waktu bersamanya. Di sisi lain, gue harus mempertanggungjawabkan ke Pak Menik di sana karena beliau sudah mempersiapkan segalanya. Gue berinisiatif untuk mengumpulkan 25ribu perorang sebagai ‘biaya tidak enak’. Mengingkari janji is not my style.

Tapi karena paksaan bujukan Taufiq mentor kelas, berhasil terkumpul 9 orang yang pasti ikut. So here we go to Pulau Seribu.

Minggu pagi, jam 4 gue udah menunggu di randesvouz, simpang CL/Grogol menunggu teman-teman. Walopun kita janjian jam 5.30, tapi gue berusaha datang lebih cepat biar gue menunggu lebih awal. Hingga pukul 5.45 belum ada satupun yang keluar batang hidungnya. Yeah, rather sux. Versi gue, jam 5.30 adalah dimana jarum panjang menunjukkan angka 6 dan jarum pendek berada ditengah angka 5 dan 6.

Setelah jam 6, kita semua berkumpul dan dengan 2 mobil kita menuju ke Muara Karang, dermaga kapal tempat kita akan naik kapal (ya iyalah, masak naik bom-bom car) ke Pulau Pramuka. Bau Ikan dan keramean turis lokal yang bertujuan sama menemani perjalanan kami. 5 cewek berada di kapal, dan 4 cowok duduk di atas.

Gue nyaris mabuk karena nekat ga make jaket, stupid thing I’ve done. Untung aja ada Wawan yang baik hati mengambilkan jaket. Keringat dingin membasahi tubuh dan wajahku. Aaaargh, mau ditaruh mana muka gue kalo mereka tau mabuk laut.

Di tengah laut (yup..disekitar kami lautan nan dalam) kapal bermasalah, mesin bocor dan air masuk ke kapal. Kapal yang seharusnya diisi 150orang dipaksakan menjadi 300orang. OMG, tindakan yang bodoh menawar maut. Walopun gugup, deg-degan dan panik, untung saja kapal bisa mendarat darurat di salah satu pulau. Semua penumpang turun.

Tak lama kemudian, beberapa kapal penolong datang untuk melanjutkan perjalanan. Setengah jam kami menuju pulau Pramuka.

Di P. Pramuka, gue menemui Pak Menik untuk mengurus makan siang, peralatan snorkeling, dan penginapan. Setelah makan siang dan sholat dzuhur, kita menuju tempat snorkeling. Dari semua yang ikut, hanya dua yang pernah snorkeling (gue salah satunya) dan hanya satu orang yang bisa berenang (dan gue bukan satu orang ituh).

Di tempat latihan, gue memaksa semua untuk terjun ke laut karena insya Alloh aman. Gegara ini, gue dibilang mentor galak..hauhaha

Setelah latihan, kami lanjut ke tempat snorkeling di P. Air. Hampir semua terjun dan menikmati pemandangan yang ada. Hanya 2 orang yang takut.

Setelah puas kita lanjut ke tempat snorkeling berikutnya, kali ini gue harus meyakinkan semuanya terjun. Dan semua terjun juga ke lautan. Bahkan yang tadinya takut, malah tidak mau naik kapal karena keasyikan.

Setelah puas snorkeling jam 4, rencananya kita mau kembali ke penginapan. Walaupun tidak ada di agenda, gue berinisiatif mengajak mereka ke P. Semak Daun. Pulau pribadi yang menurut gue bagus untuk mereka sambangi. Hingga mentari sembunyi kami bermain di sana.

Kami pun balik ke P. Pramuka tempat kami menginap, sholat Maghrib dan makan malam.

Sudahkah aku bercerita tentang tangan kiriku yang beberapa hari belakangan sakit ketika digerakkan? Sewaktu snorkeling, Gue agak memaksakan bergerak karena menurut analisa ngawur gue..kalo dibawa berenang, tangan gue bisa sembuh. Ternyata tidak, semakin sakit yang gue rasakan. Gue minta tolong penduduk sekitar untuk mengurut tangan.

Seharusnya ada acara silaturrahmi di malam hari, tapi karena gue sedang diurut maka acara dibatalkan dan mereka pun tidur. Sedangkan gue? menjerit kesakitan karena seluruh badan gue di totok, diurut dan dipijat sampai gue harus menggigit bantal. Badan gue remuk. Gue dianalisa punya penyakit rematik. Sounds not good.

Pginya, kami bangun untuk sholat tahajud, witir, tadarus dan sholat Subuh. Kami harus mengejar kapal pagi karena ada beberapa dari kami yang harus datang kondangan di siang hari. Ya..ya..lagi musim kawin. Dan katanya, datang ke kondangan adalah berkah bagi yang ingin menikah.

Jam 7 kapal beranjak dari dermaga, kami mengambil posisi masing-masing di kapal supaya perjalanan nyaman. AKhirnya jam 10 kami tiba di Jakarta dan berpisah untuk melanjutkan hari ini.

Oleh-oleh yang aku dapatkan adalah beberapa potong kertas berupa pandangan, tanggapan, saran dan masukan dari teman-teman yang telah mengenal kami selama satu semester belajar ilmu agama.

Gue puwas bukan karena bisa kembali ke Pulau Seribu, tapi karena gue sudah berhasil membawa mereka pada petualangan baru.

Itam Manis yang Membuat Merem Melek

1 year, 2 months ago - Tag: Fun, Opinion - Comment (2)

Ada satu ritual baru dalam keseharian gue akhir-akhir ini. Setelah makan siang sebelum Ashar, harus merasakan nikmatnya. Dua sendok kopi itam, satu sendok cream, dan setengah sendok gula diaduk dalam satu cangkir kecil bisa membuat gue bertahan lebih lama. Bertahan dari hadangan kantuk demi menghadapi aktifitas di malam hari.

Bergadang bukan hal baru, tapi mata ini tidak lagi setangguh dulu. Setelah berkutat dengan rutinitas kantor (yeah, work sux! but I need money actually) gue harus melanjutkan aktifitas berikutnya di kelas. Padahal dulu ga pernah perlu yang namanya doping melek ini.

Bokap gue maniak kopi. Sarapan secangkir kopi, di mobil harus ada kopi, yang harus dilakuin adek sebelum mandi pagi harus membuat kopi, dan kalo nyokap bepergian beberapa hari harus dipastikan stock kopi selalu tersedia. Tapi kebiasaan itu tidak menurun ke anaknya yang paling ganteng ini. Sama halnya dengan hobi merokok bokap, gue benci yang namanya kopi. Pahit choy!

Selama bergadang masa kuliah, kopi adalah daftar minuman yang terakhir di list gue. Gue lebih memilih air putih walaupun rasanya tawar, dan mata ini tetap bisa kuat walopun harus bergadang.

Selain kopi, menurut lo apa yang bisa membuat mata tetap merem melek?

burden of being a hero

1 year, 2 months ago - Tag: Dream, Fun, Love, Opinion, Profile - No Comment (0)

Not everyone is meant to make a difference. But for me, the choice to lead an ordinary life is no longer an option.

Who am I? You sure you want to know? The story of my life is not for the faint of heart. If somebody said it was a happy little tale… if somebody told you I was just your average ordinary guy, not a care in the world… somebody lied.

We knows a hero when we sees one. Too few characters out there, flying around like that, saving old girls like me. And Lord knows, kids like Henry need a hero. Courageous, self-sacrificing people. Setting examples for all of us. Everybody loves a hero. People line up for them, cheer them, scream their names. And years later, they’ll tell how they stood in the rain for hours just to get a glimpse of the one who taught them how to hold on a second longer. I believe there’s a hero in all of us, that keeps us honest, gives us strength, makes us noble, and finally allows us to die with pride, even though sometimes we have to be steady, and give up the thing we want the most. Even our dreams.

yeah..no wonder much of Heroes live alone.

Recent Comments

About

  • Only a man in a silly-red-shirt, digging for a kryptonite on this one-way street.
    (Still) trying to be something more than just a blip on the radar-screen

Elsewhere

Syndications

Meta

God, grant me the serenity to accept the things I cannot change; the courage to change the things I can; and the wisdom to know the difference.