TED – Ideas Worth Spreading
Remarkable people…
…unmissable talks…
..now free to the world.
Intro yang setiap pagi, sembari sarapan, menemani *hlah* gue sebelum bersiap ngantor. Di post sebelumnya, gue pernah menyinggung soal TED. Karena DVD-nya baru diterima, ga banyak yang bisa diceritain.
Ada ratusan (300-400) presentasi yang harus ditonton, baru aja nonton beberapa dari video yang ada. Berbeda dengan waktu dulu, mendengarkan serial podcast FOWA sambil baca presentasi bisa dihabiskan dalam waktu 2hari 1malam, sekarang? mana bisa… I confess, time is a luxury I don’t have *strucked by a lightning* don’t take it seriously, please…
Setiap presenter memaparkan ide yang mereka punya dengat sangat brilliant, standing ovation for each of them. Walaupun ide mereka sederhana, efek yang diberikan ke orang-orang sangat besar. All about a story worth telling, a dream worth pursuing, and an idea worth sharing.
Presentasinya, ga melulu soal teknologi. Nilai-nilai sosial sangat kental disisipkan pada setiap presentasi. Sisi baiknya, bersyukur dunia masih memiliki orang-orang seperti mereka yang optimis bahwa bumi ini masih bisa menjadi tempat yang nyaman untuk dihuni. Yeah, no matter how genius you are if you don’t make a (even small) contribution to the world, then you have to bury your corpse by yourself. *sarcasm*
Semisal saja dari Eleni Gabre-Madhin -(mantan) ekonom WallStreet- punya ambisi membuat pasar komoditas di Ethiopia untuk meminimalisasi resiko dan meningkatkan kesejahteraan petani dari daerah penerima sumbangan terbesar dari dunia ini. Atau dari Matthieu Ricard -seorang biksu Buddha, fotografer dan penulis- yang mengabdikan hidupnya tentang pencarian jawaban atas pertanyaan paling sulit di dunia, apa arti kebahagiaan dan bagaimana cara mendapatkannya. Berbeda dengan Daniel Goleman –pengarang Emotional Intelligence- yang bercerita bertanya mengapa kadang-kadang kita tidak bisa bergairah menghadapi hidup? Dia juga menjelaskan bahwa setiap dari kita terlahir dengan rasa empati, tapi kadang kita memilih untuk tidak peduli.
Kadang, apa yang dibicarakan oleh beberapa presenter sulit untuk diterima dengan akal sehat dan beberapa kali membuat gue mengernyitkan dahi. Bukan karena ide yang disampaikan terlalu canggih, tapi bagaimana mereka bisa mendapatkan ide liar seperti itu. Misalnya David Keith –seorang pengamat lingkungan- yang bercerita tentang solusi murah, efektif dan …mengejutkan, tentang bagaimana mengubah iklim yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Bagaimana kalo kita menginjeksi awan debu yang sangat besar ke atmosfir, untuk mengurangi sinar matahari yang juga mengurangi panas yang masuk ke Bumi sehingga mengurangi volume es yang mencair. Caranya adalah dengan meledakkan beberapa bom nuklir. Insane, huh?
Hanya dengan mempelajari sepasang kaki binatang, Robert Full –seorang biologist- bercerita tentang ketertarikan dan hasil risetnya mengenai membuat robot yang bisa beradaptasi pada segala medan.
Presentasi dari Isabel Allende adalah salah satu presentasi favorit gue. Novelist Allende bicara soal menulis, wanita (selalu menjadi topik favorit yang menarik untuk diperbincangkan), dan passion. Dia bercerita tentang beberapa great-woman yang dia kenal, salah satunya Sophie Laurent. The most sophisticated-daring-ellegant woman on Earth, gitu kata Isabel. Beberapa dari mereka adalah wanita paling sukses di jagat ini, beberapa dari mereka hidup sederhana, rendah hati tapi punya martabat yang tinggi, dan berbakat meskipun hidup di dunia yang masih memperlakukan wanita sebagai makhluk nomor dua.
…dan masih banyak lagi cerita lainnya
Pastinya, setiap presentasi memancing pertanyaan-pertanyaan baru. Tapi bukan itu yang ingin kita debatkan. Setiap orang punya penawaran solusinya masing-masing. Kebenaran hanya soal siapa yang bisa bercerita lebih baik, siapa yang bisa menjual idenya lebih laris. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihat. Tapi benang merah yang bisa gue dapat dari beberapa presentasi adalah, an Idea can change the world because Idea is bulletproof.
It's nice to have your comment(s) here »»

Yosu
@Idea is indeed bulletproof.
But then how about the man behind the idea?
Riky Kurniawan
@– Evey Hammond
*here we go again*