Self-fulfilling prophecy dan statistic
Thanx to Yos, atas inspirasinya.
Gue pengen bahas yang namanya Self-Fulfilling Prophecy. Seperti biasa, kita mulai dengan defenisi agar kita sama-sama melihat binatang yang sama.
The self-fulfilling prophecy is, in the beginning, a false definition of the situation evoking a new behavior which makes the original false conception come ‘true’. This specious validity of the self-fulfilling prophecy perpetuates a reign of error. For the prophet will cite the actual course of events as proof that he was right from the very beginning.[1]
Mengenai konsep Self fulfilling prophecy ini pernah gue bahas 2008 lalu, tapi sekarang relevansinya adalah dengan Statistika.
Kita apa yang kita pikirkan. Seperti teorema dari Thomas “If men define situations as real, they are real in their consequences.” Celakanya lagi, seringkali apa yang kita pikirkan di-drive oleh pandangan umum yang dibentuk secara sadar atau tidak sadar dalam masyarakat. Pandangan itu dibentuk sedemikan rupa dengan bagan-bagan batang atau kue pie yang berwarna-warni. Kita menyebutnya Statistik.
Self Fulfilling Prophecy
Gue asumsiin lo sudah pernah menonton Star Wars, dan tau dengan karakter Anakin Skywalker. Lahir sebagai Jedi tangguh namun tewas sebagai Sith yang kejam. Anakin bermimpi bahwa Padme Amidala akan meninggal, Anakin pun berusaha desperately sekuat tenaga untuk menyelamatkannya. Apapun cara ditempuh, bahkan untuk menggunakan black power yang bisa digunakan jika Anakin berubah menjadi Sith. Akhirnya, Padme meninggal di waktu Anakin mempelajari ilmu tersebut.
Statistic
Ini ilmu yang hebat menurut gue. Ilmu ini bisa membuat SBY memenangkan pemilu secara landslide. Untuk negara yang suka mengikuti trend seperti Indonesia, ilmu ini sangat mumpuni sebagai pembenaran akan sesuatu. Misalnya, merokok itu ga sehat. Tapi secara statistik orang merokok itu panjang umurnya. Maka merokok tidak sehat menjadi tidak relevan (Logical Fallacy). Sama seperti ilmu-ilmu lainnya, statistik juga berguna bagi kemaslahatan umat.
Self Fulfilling Prophecy dan Statistic
Gue melihat hubungan yang erat antara statistik dan Self Fulfilling Prophecy. Seringkali kita berpikir berdasarkan statistik yang ada sehingga mengaburkan objektifitas kita akan sesuatu. Padahal hidup itu dinamis. Kita tidak bisa mengandalkan data masa lalu untuk sesuatu yang selalu berubah. Mungkin kita bisa menebak masa depan dengan deviasi/simpangan tertentu, tapi seringkali bias deviasi ini terlalu besar sehingga apa yang kita pikirkan jauh dengan apa yang akan terjadi nantinya.
Apa yang gue jabarkan di atas seringkali terjadi pada diri sendiri. Kita percaya pada statistik yang membuat tindakan dan perkataan kita dipengaruhi olehnya. Bukan berarti setiap hasil statistik jelek, yang harus dihindari adalah jika statistik yang mengungkapkan fakta negatif mendorong kita membenarkan pernyataan tersebut. Jika statistik mengenai hasil positif, wajib untuk kita imani.
Tidak hanya statistik, sebuah mimpi pun bisa menjadi Self Fulfilling Prophecy yang bisa mengendalikan pikiran dan tindakan kita.
baca juga:
1. http://en.wikipedia.org/wiki/Placebo_effect
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Pygmalion_effect
3. http://en.wikipedia.org/wiki/Hawthorne_effect
It's nice to have your comment(s) here »»

nana
@wah…pengetahuan nih.. good..:)
Yosu
@Hrmmm oke. hrrmmm. Oke. Oke. Oke. Hrrmm.
Gue menangkap 83% maksud yang kepengen lo sampaikan.
Riki Pribadi
@berat….berat….berat…