Riky Kurniawan

Rihlah YISC F ke P. Seribu

1 year, 2 months ago - Tag: Community, Fun, Love, Opinion, Photography, Travelling

Sabtu-Minggu (13-14 Juni) lalu, gue dan kawan-kawan dari YISC mengadakan acara perpisahan di luar kota.

Pulau Seribu adalah tujuan kami.

Ini berawal dari hasutan ajakan gue kalo mereka harus melakukan sesuatu out-of-the routines, something new that they will remember all the time. Gue menantang mereka melakukan snorkeling. Tidak bisa berenang bukan alasan untuk tidak bisa menikmati keindahan bawah laut dan ciptaan Alloh SWT.

Ide ini disambut beberapa orang dengan antusias. Tapi ada yang tidak begitu antusias karena alasan biaya dan waktu. Di minggu akhir, rencana hampir saja berantakan karena dari target 10 orang yang ikut hanya 4 orang saja yang konfirmasi pasti ikut. Padahal gue udah menghubungi kenalan yang ada di sana untuk menyediakan tempat tinggal, makanan, peralatan snorkeling dan sewa kapal.

(Nyaris) Gagal ini sedikit membuat gue senang karena minggu depan gue mau UTS, jadi paling tidak ada sedikit waktu untuk belajar dan menghabiskan waktu bersamanya. Di sisi lain, gue harus mempertanggungjawabkan ke Pak Menik di sana karena beliau sudah mempersiapkan segalanya. Gue berinisiatif untuk mengumpulkan 25ribu perorang sebagai ‘biaya tidak enak’. Mengingkari janji is not my style.

Tapi karena paksaan bujukan Taufiq mentor kelas, berhasil terkumpul 9 orang yang pasti ikut. So here we go to Pulau Seribu.

Minggu pagi, jam 4 gue udah menunggu di randesvouz, simpang CL/Grogol menunggu teman-teman. Walopun kita janjian jam 5.30, tapi gue berusaha datang lebih cepat biar gue menunggu lebih awal. Hingga pukul 5.45 belum ada satupun yang keluar batang hidungnya. Yeah, rather sux. Versi gue, jam 5.30 adalah dimana jarum panjang menunjukkan angka 6 dan jarum pendek berada ditengah angka 5 dan 6.

Setelah jam 6, kita semua berkumpul dan dengan 2 mobil kita menuju ke Muara Karang, dermaga kapal tempat kita akan naik kapal (ya iyalah, masak naik bom-bom car) ke Pulau Pramuka. Bau Ikan dan keramean turis lokal yang bertujuan sama menemani perjalanan kami. 5 cewek berada di kapal, dan 4 cowok duduk di atas.

Gue nyaris mabuk karena nekat ga make jaket, stupid thing I’ve done. Untung aja ada Wawan yang baik hati mengambilkan jaket. Keringat dingin membasahi tubuh dan wajahku. Aaaargh, mau ditaruh mana muka gue kalo mereka tau mabuk laut.

Di tengah laut (yup..disekitar kami lautan nan dalam) kapal bermasalah, mesin bocor dan air masuk ke kapal. Kapal yang seharusnya diisi 150orang dipaksakan menjadi 300orang. OMG, tindakan yang bodoh menawar maut. Walopun gugup, deg-degan dan panik, untung saja kapal bisa mendarat darurat di salah satu pulau. Semua penumpang turun.

Tak lama kemudian, beberapa kapal penolong datang untuk melanjutkan perjalanan. Setengah jam kami menuju pulau Pramuka.

Di P. Pramuka, gue menemui Pak Menik untuk mengurus makan siang, peralatan snorkeling, dan penginapan. Setelah makan siang dan sholat dzuhur, kita menuju tempat snorkeling. Dari semua yang ikut, hanya dua yang pernah snorkeling (gue salah satunya) dan hanya satu orang yang bisa berenang (dan gue bukan satu orang ituh).

Di tempat latihan, gue memaksa semua untuk terjun ke laut karena insya Alloh aman. Gegara ini, gue dibilang mentor galak..hauhaha

Setelah latihan, kami lanjut ke tempat snorkeling di P. Air. Hampir semua terjun dan menikmati pemandangan yang ada. Hanya 2 orang yang takut.

Setelah puas kita lanjut ke tempat snorkeling berikutnya, kali ini gue harus meyakinkan semuanya terjun. Dan semua terjun juga ke lautan. Bahkan yang tadinya takut, malah tidak mau naik kapal karena keasyikan.

Setelah puas snorkeling jam 4, rencananya kita mau kembali ke penginapan. Walaupun tidak ada di agenda, gue berinisiatif mengajak mereka ke P. Semak Daun. Pulau pribadi yang menurut gue bagus untuk mereka sambangi. Hingga mentari sembunyi kami bermain di sana.

Kami pun balik ke P. Pramuka tempat kami menginap, sholat Maghrib dan makan malam.

Sudahkah aku bercerita tentang tangan kiriku yang beberapa hari belakangan sakit ketika digerakkan? Sewaktu snorkeling, Gue agak memaksakan bergerak karena menurut analisa ngawur gue..kalo dibawa berenang, tangan gue bisa sembuh. Ternyata tidak, semakin sakit yang gue rasakan. Gue minta tolong penduduk sekitar untuk mengurut tangan.

Seharusnya ada acara silaturrahmi di malam hari, tapi karena gue sedang diurut maka acara dibatalkan dan mereka pun tidur. Sedangkan gue? menjerit kesakitan karena seluruh badan gue di totok, diurut dan dipijat sampai gue harus menggigit bantal. Badan gue remuk. Gue dianalisa punya penyakit rematik. Sounds not good.

Pginya, kami bangun untuk sholat tahajud, witir, tadarus dan sholat Subuh. Kami harus mengejar kapal pagi karena ada beberapa dari kami yang harus datang kondangan di siang hari. Ya..ya..lagi musim kawin. Dan katanya, datang ke kondangan adalah berkah bagi yang ingin menikah.

Jam 7 kapal beranjak dari dermaga, kami mengambil posisi masing-masing di kapal supaya perjalanan nyaman. AKhirnya jam 10 kami tiba di Jakarta dan berpisah untuk melanjutkan hari ini.

Oleh-oleh yang aku dapatkan adalah beberapa potong kertas berupa pandangan, tanggapan, saran dan masukan dari teman-teman yang telah mengenal kami selama satu semester belajar ilmu agama.

Gue puwas bukan karena bisa kembali ke Pulau Seribu, tapi karena gue sudah berhasil membawa mereka pada petualangan baru.


It's nice to have your comment(s) here »»

Recent Comments

About

  • Only a man in a silly-red-shirt, digging for a kryptonite on this one-way street.
    (Still) trying to be something more than just a blip on the radar-screen

Elsewhere

Syndications

Meta

God, grant me the serenity to accept the things I cannot change; the courage to change the things I can; and the wisdom to know the difference.