Riky Kurniawan

Latah

1 year, 9 months ago - Tag: Opinion

Latah is a condition of hyperstartling found in Southeast Asia that is commonly considered a culture-specific syndrome. It is also the name for those with the condition, which is found mainly in adult women. The afflicted have a severe reaction to being surprised in which they lose control of their behavior, mimic the speech and actions of those around them and obey any commands given them. Latahs are generally not considered responsible for their actions during these episodes.

Wikipedia

“E..copot, eh copot…copot”, sepenggal lirik dari Adi Bing Slamet membuka entry ini.

Menurut wikipedia, latah merupakan suatu gejala psikologis yang hanya dikenal pada sistem budaya tertentu. Latah tidak bisa dianggap kebiasaan sepele yang tak ada kaitannya dengan penyakit. Latah berhubungan erat dengan dimensi gangguan jiwa, fungsi syaraf, psikologis dan sosial.

Secara geografis, kawasan Asia Tenggara berada pada peringkat pertama dengan jumlah penderita latah terbanyak. Selain Indonesia, penderita latah juga ditemukan pada beberapa suku di Jepang dan Prancis.

Walaupun tidak sepenuhnya tepat, disinyalir bahwa penyakit ini tumbuh dan berkembang di masyarakat yang menerapkan budaya otoriter dan penderitanya biasanya orang tua, perempuan, berpendidikan rendah dan berada pada kelas ekonomi bawah. Jadi dapat disimpulkan bahwa latah adalah gejala psikologis untuk kaum proletar, berbeda dengan “penyakit elit” yang biasanya diidap kaum borjuis seperti kanker, serangan jantung atau gangguan hati.

Ada dua jenis latah yang dikenal, latah tindakan dan latah verbal.

Latah verbal, menurut wikipedia dibedakan menjadi 2 jenis.

Echolalia, ketika kaget penderita mengulang perkataan lawan bicara tanpa mengubah konteks kata/kalimat. Berasal dari kata Yunani, “Echo” yang mempunyai arti “mengulang”.

Coprolalia, ketika kaget penderita merespon dengan mengeluarkan sumpah serapah atau kata-kata tak senonoh. Berasal dari sebuah kata Yunani, “Coprol” yang mempunyai arti “feces/kotoran”.

Dari sebuah referensi, latah jenis Coprolalia adalah pembuktian dari teori Sigmund Freud (bapak psikologi modern), yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk dengan instink kebinatangan. Perubahan emosi secara tiba-tiba, bisa menjadi trigger dan impulse untuk membangunkan instink tersebut.

Latah tindakan, dibedakan menjadi 2 jenis. yaitu Ekopraksia meniru gerakan orang lain dan Automatic Obedience (melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut). Misalnya, ketika penderita dikejutkan dengan seruan perintah seperti “sujud” atau “peluk”, ia akan segera melakukan perintah itu.

Latah disebabkan oleh beberapa hal. Beberapa teori menyebutkan:

< sotoy begin >

Jenis-jenis latah semakin berkembang sesuai peradaban. Adapun latah yang bermunculan sesuai dengan trend diantaranya:

< sotoy end >


It's nice to have your comment(s) here »»