Hiatus on Photography
Untuk sementara berpikir menghiatuskan diri dari salah satu hobby, dengan berbagai pertimbangan. Bukan ga suka atau bosan dengan hobby ini, gue sangat menikmati dengan apa yang dilakukan selama menjalani kegiatan ini. Tapi sepertinya, skala prioritas membuat hobby ini harus mengalah dengan prioritas lainnya. Mungkin suatu saat kita bisa bertemu lagi, fotografi.
Gue ingat banget masa-masa awal ketika senang dengan fotografi. Ribuan halaman artikel dan buku mengenai fotografi dibaca (no kidding!), milis fotografi jadi sarapan pagi, klub fotografi di ikutin, semua teknik fotografi dipelajari, ga pernah bosan melihat gallery fotografer kondang dan membaca data-data teknis di balik sebuah jepretan, dan akhirnya receh demi receh berhasil dikumpulkan dan ditukar dengan sebuah EOS 450D. Sudah saatnya mempraktekkan apa yang sudah dipelajari.
Beberapa tempat berhasil diabadikan dalam sebuah frame, beberapa model berhasil dijebak dirayu untuk difoto kecantikan wajahnya, dan momen-momen bersama menjadi kenangan indah untuk diingat nanti.
Sama seperti hobi lelaki pada umumnya, ini bukan hobby murah. Selalu saja ada racun untuk terus meningkatkan hasil jepretan. Mulai dari lensa, lampu blitz, tripod, dan aksesoris lainnya. Untung saja pendapatan pas²an, jadinya tidak terlalu lapar mata pada barang-barang ini. Berusaha stick to the plan, selama masih bisa mengabadikan objek yang menurut gue bagus, itu sudah cukup untuk kepuasan pribadi. Pujian dari orang-orang sekitar hanyalah bonus, dan heeei..gue seorang Pisces, seni adalah hal yang mengalir dalam tubuh kami.
Lalu kenapa memutuskan untuk hiatus? karena ada banyak hal-hal penting yang sepertinya harus diprioritaskan. Gue mau memasukkan batu-batu besar dalam tempayan hidup sebelum batu-batu kecil masuk. Jangan sampai ketika wajan penuh, gue baru menyadari ada banyak hal yang lebih indah terlewatkan dalam hidup ini.
Mungkin suatu saat gue akan kembali lagi untuk (agak) serius menekuni hobi ini. Tentu saja, dengan gear yang lebih mumpuni, tempat yang lebih jauh dan indah. Untuk sementara kamera hanya akan keluar, ketika sangat dibutuhkan, bukan ketika diinginkan.
—————————————-
Kupelihara Rindu Itu
tak langsung kuumbarumbar
kupinjam sedikitsedikit saja
biar tak habis biar bersisa
kupelihara rindu itu
tak langsung kutuangtuang
kusimpan buat besok dan lusa
biar sedia biar masih ada
kupelihara rindu itu
biar hidup biar tak hampa
rizapn . 06april2009 . 16:03wib.
Solo Backpacking ke Bangkok-Phuket-Krabi
Persiapan sebelum perjalanan.
10-16 Februari lalu akhirnya melakukan perjalanan pertama ke luar negeri, sebuah pengalaman 6 hari yang penuh dengan wow-moment. Tiket ini dibeli pada masa promo Rp.0 dari AirAsia 9 bulan lalu (Mei 2009). Biasanya AirAsia melakukan promo Rp.0 untuk beberapa destinasi populer 2 kali setahun, silahkan daftar ke layanan Red Alert untuk mendapatkan informasi promo ini.
Dari rencana awal, ada beberapa jalur harus dibatalkan karena waktu terlalu singkat, tiket yang seharusnya Jakarta -Bangkok-Malaysia-Jakarta terpaksa harus diubah menjadi Jakarta-Bangkok-Phuket-Jakarta. Salah satu resiko yang harus diambil dari sebuah rencana. Sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan Malaysia, tidak ada yang menjadi daya tarik di negara tersebut selain 2 menara-tinggi-gue-lupa-namanya, ditambah adanya konflik pribadi dengan negara tetangga tersebut.
Waktu selama 9 bulan itu dimanfaatkan untuk 2 hal: mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk menyusun itinerary (catatan perjalanan) dan menabung. Dari draft itinerary yang disusun, maka minimal harus menabung sebanyak 300ribu selama 8-9 bulan, untuk detail biaya akan dijabarkan lebih lanjut.
(more…)
Rubicaholic
Selama 4 hari di sela² gawean kantor dan kuliah, gue belajar bagaimana cara menyusun rubik. Candu ini berawal dari berita di TV ada yang bisa menyusun rubik dalam waktu hanya 17 detik. Gue dan Nda berdecak kagum dengan dan penasaran gimana bisa nyusun kotak 3×3 tersebut.
Akhirnya minggu lalu gue membeli rubik pertama. Jujur aja, gue rada nyesel baru kenal ama permainan ini. Kenapa? karena banyak banget nilai-nilai yang bisa di dapat dari permainan sederhana ini. Gue yang sangat amat lemah dalam hal memorizing dan dimensi, membutuhkan permainan seperti ini. Waktu tes IQ SMU dulu, nilai test ruang dimensi gue adalah nilai yang paling ancur.
rubik pertama ini gue beli di Gramedia Semanggi Plasa, tepatnya di sudut Corbuzier Shop. Dari si penjual, ada beberapa tipe rubik berdasarkan kualitas, bentuk dan warna. Karena ini permainan baru, gue ga mau neko² dulu. Rubik 3×3 is fine for a start. Rubik 3×3 ini ada banyak ragam, mulai dari yang asli sampai yang DIY (Do it Yourself). Secara komposisi warna, sama aja. Yang membedakan adalah kualitas putaran (mudah diputar dan sulit diputar) dan apakah warnanya di cat atau pake stiker.
Rubik 3×3 terdiri dari 6 warna. Selain itu, ada 2 standar komposisi warna yang diakui International. Yaitu komposisi ala USA dan komposisi ala Jepang. Yang membedakan hanya susunan warna hijau dan biru saja. Sebuah fakta yang tidak mempengaruhi hasil akhir.
1 hari pertama gue pengen tes tanpa bantuan apapun, dan hasilnya adalah sebuah susunan kubus yang tidak berpola. Tidak ingin membuang waktu lebih banyak, gue pun mulai mencari artikel dan tutorial mengenai rubik ini. Ternyata, selama ini gue hanya melompat-lompat dalam tempurung. Banyak banget metode dan algoritma yang harus dilakukan untuk bisa menyusun sebuah rubik. Ada metode layer by layer, metode corner dna metode lainnya. Untuk yang beginner kaya gue, metode layer by layer adalah awal yang bagus untuk belajar.
Selain belajar algoritma dari Jessica Fridrich tersebut, ga ada salahnya juga menonton video berseri berikut: video menyusun rubik seri satu dan video menyusun rubik seri dua.
Jika sudah mempelajari algoritma yang ada, rubik tidak lagi menjadi sebuah benda yang menakutkan lagi. Dan sekarang, dalam waktu 5 menit rubik sudah tersusun kembali. Masih jauh dari rekor dunia < 20 detik dan rekor Virkill dkk di komunitas rubik. Mereka bisa menyelesaikan rubik dengan mata tertutup dan hanya satu tangan.
Nilai-nilai yang gue dapat selama belajar Rubik:
1. Ga usah gengsi belajar dari metode yang sudah ada, belajar tanpa metode hanya akan menghabiskan waktu. Fakta #16. Jika seseorang mencoba secara acak untuk menyelesaikan permainan ini, maka waktu yang diperlukan akan melebihi umurnya sendiri.
2. Lupa makan, lupa nelpon pacar, lupa kerja karna penasaran nyusun rubik.
3. Setelah berhasil, pola pikir ruang kita akan meningkat tajam.
4. Klo udah bisa, starving for speed and another challenge buat selesaikan rubiknya.
5. Ini ga cuma berlaku buat rubik aja, semuanya bisa dipelajarin jika sungguh-sungguh. Nothing is impossible if you desperately want it.
Antusias pembeli dalam launching Esia Gayaku
Esia kembali membuat gebrakan. Kali ini Esia mengeluarkan hape murah dengan fitur canggih untuk meramaikan pasar gadget nasional. Hape yang memiliki segudang fitur ini dibanderol dengan harga hanya Rp.99.000 saja. Esia mencoba memberikan pilihan pada masyarakat dengan memanfaatkan fenomena Facebook yang saat ini sedang membooming.
Seperti biasanya, setiap acara yang diadakan Esia selalu mendapat antusias yang meriah dari masyarakat. Promosi yang secara nyentrik tampil di halaman koran nasional mampu membius masyarakat untuk hadir dan membeli produk anyar yang melengkapi jajaran koleksi hp murah dari Esia tersebut.
Tampaknya Esia ingin mengulangi kesuksesan penjualan hp huawei C2601 yang legendaris terdahulu.
Esia bekerjasama dengan vendor Nexian menawarkan sebuah HP yang sesuai dengan kebutuhan terkini masyarakat yang gaul dan trendy. HP yang diberi nama Esia Gayaku kaya akan fitur gaul diantaranya facebook, fitur karaoke, radio FM dan fitur musik yang dikemas dengan desain yang mungil nan trendy. Tawaran Esia ini memberikan jawaban ke masyarakat bahwa hp canggih ga perlu mahal.
Dengan membaca tren yang berkembang di masyarakat, rasanya tak lengkap fitur sebuah hp jika tidak bisa mengakses jejaring pertemenan yang sedang populer yaitu Facebook. Melihat ‘kebutuhan pokok’ itulah Esia berusaha masuk ke pasar hp gaul dengan menawarkan fitur yang mengakomodasi kebutuhan masyarakat tapi dengan harga murah, sesuai dengan ciri khas Esia murah tapi berkualitas.
Launching hp Esia gayaku diadakan di Plasa EX tanggal 25 November 2009, acara yang semula dibuka pukul 11 siang sudah dipadati pengunjung dari pagi hari. Pengunjung datang dari berbagai daerah di Jakarta berdatangan jauh sebelum waktu launching yang dijanjikan. Alhasil antrian sudah berbaris panjang ketika mendekati siang hari. Bahkan, pada pukul 8 sudah ada yang datang demi mendapatkan antrian paling depan dan membawa pulang hp yang seharusnya dijual dengan harga Rp. 299.000.
Pada jam 11, lantai dasar dan parkir plasa EX sudah banyak dikerumuni massa yang tak sabar untuk segera memiliki hp Esia gayaku, padahal acara sendiri baru akan dimulai pada pukul 11.30. Jumlah calon pembeli yang hadir sepertinya jauh diatas perkiraan dari panitia yang ‘hanya’ menyediakan jatah kurang dari 10.000 nomor untuk alokasi Jakarta.
Panitia pun kewalahan dan ingin acara di undur hingga pukul 3 untuk persiapan yang lebih matang. Peserta yang sudah datang dari pagi tidak rela harus menunggu lagi dan beberapa dari mereka berinisiatif untuk membantu agar antrian menjadi lebih rapi, penjualan pun diteruskan. Untuk mendapatkan hp tersebut dengan harga miring, calon pembeli diwajibkan untuk menukarkan brosur iklan Esia gayaku ketika membeli produk.
Jumlah panitia juga ditambah untuk melayani calon pembeli yang sudah datang dari jauh dan rela mengantri dari pagi hari.
Tak heran jika masyarakat rela mengantri demi mendapatkan hp murah dengan spesifikasi radio FM, bisa Facebook-an, warna 65 ribu di layar 1.5 inchi, baterai yang tahan 120 jam pada kondisi siaga, 3 jam waktu bicara, bisa menyimpan 500 kontak dan 350 sms yang tersedia dalam warna orange, hijau dan hitam.
Dengan kelebihan yang ditawarkan tersebut, wajar saja antrian yang awalnya hanya ada di dalam gedung plasa EX dipindahkan ke area parkir yang lebih luas dan lega. Sukses terus untuk Esia akan inovasi produk murah dan bersaing!
Jadi, mau gaya ga harus mahal kaan..
Rihlah YISC F ke P. Seribu
Sabtu-Minggu (13-14 Juni) lalu, gue dan kawan-kawan dari YISC mengadakan acara perpisahan di luar kota.
Pulau Seribu adalah tujuan kami.
Ini berawal dari hasutan ajakan gue kalo mereka harus melakukan sesuatu out-of-the routines, something new that they will remember all the time. Gue menantang mereka melakukan snorkeling. Tidak bisa berenang bukan alasan untuk tidak bisa menikmati keindahan bawah laut dan ciptaan Alloh SWT.
Ide ini disambut beberapa orang dengan antusias. Tapi ada yang tidak begitu antusias karena alasan biaya dan waktu. Di minggu akhir, rencana hampir saja berantakan karena dari target 10 orang yang ikut hanya 4 orang saja yang konfirmasi pasti ikut. Padahal gue udah menghubungi kenalan yang ada di sana untuk menyediakan tempat tinggal, makanan, peralatan snorkeling dan sewa kapal.
(Nyaris) Gagal ini sedikit membuat gue senang karena minggu depan gue mau UTS, jadi paling tidak ada sedikit waktu untuk belajar dan menghabiskan waktu bersamanya. Di sisi lain, gue harus mempertanggungjawabkan ke Pak Menik di sana karena beliau sudah mempersiapkan segalanya. Gue berinisiatif untuk mengumpulkan 25ribu perorang sebagai ‘biaya tidak enak’. Mengingkari janji is not my style.
Tapi karena paksaan bujukan Taufiq mentor kelas, berhasil terkumpul 9 orang yang pasti ikut. So here we go to Pulau Seribu.
Minggu pagi, jam 4 gue udah menunggu di randesvouz, simpang CL/Grogol menunggu teman-teman. Walopun kita janjian jam 5.30, tapi gue berusaha datang lebih cepat biar gue menunggu lebih awal. Hingga pukul 5.45 belum ada satupun yang keluar batang hidungnya. Yeah, rather sux. Versi gue, jam 5.30 adalah dimana jarum panjang menunjukkan angka 6 dan jarum pendek berada ditengah angka 5 dan 6.
Setelah jam 6, kita semua berkumpul dan dengan 2 mobil kita menuju ke Muara Karang, dermaga kapal tempat kita akan naik kapal (ya iyalah, masak naik bom-bom car) ke Pulau Pramuka. Bau Ikan dan keramean turis lokal yang bertujuan sama menemani perjalanan kami. 5 cewek berada di kapal, dan 4 cowok duduk di atas.
Gue nyaris mabuk karena nekat ga make jaket, stupid thing I’ve done. Untung aja ada Wawan yang baik hati mengambilkan jaket. Keringat dingin membasahi tubuh dan wajahku. Aaaargh, mau ditaruh mana muka gue kalo mereka tau mabuk laut.
Di tengah laut (yup..disekitar kami lautan nan dalam) kapal bermasalah, mesin bocor dan air masuk ke kapal. Kapal yang seharusnya diisi 150orang dipaksakan menjadi 300orang. OMG, tindakan yang bodoh menawar maut. Walopun gugup, deg-degan dan panik, untung saja kapal bisa mendarat darurat di salah satu pulau. Semua penumpang turun.
Tak lama kemudian, beberapa kapal penolong datang untuk melanjutkan perjalanan. Setengah jam kami menuju pulau Pramuka.
Di P. Pramuka, gue menemui Pak Menik untuk mengurus makan siang, peralatan snorkeling, dan penginapan. Setelah makan siang dan sholat dzuhur, kita menuju tempat snorkeling. Dari semua yang ikut, hanya dua yang pernah snorkeling (gue salah satunya) dan hanya satu orang yang bisa berenang (dan gue bukan satu orang ituh).
Di tempat latihan, gue memaksa semua untuk terjun ke laut karena insya Alloh aman. Gegara ini, gue dibilang mentor galak..hauhaha
Setelah latihan, kami lanjut ke tempat snorkeling di P. Air. Hampir semua terjun dan menikmati pemandangan yang ada. Hanya 2 orang yang takut.
Setelah puas kita lanjut ke tempat snorkeling berikutnya, kali ini gue harus meyakinkan semuanya terjun. Dan semua terjun juga ke lautan. Bahkan yang tadinya takut, malah tidak mau naik kapal karena keasyikan.
Setelah puas snorkeling jam 4, rencananya kita mau kembali ke penginapan. Walaupun tidak ada di agenda, gue berinisiatif mengajak mereka ke P. Semak Daun. Pulau pribadi yang menurut gue bagus untuk mereka sambangi. Hingga mentari sembunyi kami bermain di sana.
Kami pun balik ke P. Pramuka tempat kami menginap, sholat Maghrib dan makan malam.
Sudahkah aku bercerita tentang tangan kiriku yang beberapa hari belakangan sakit ketika digerakkan? Sewaktu snorkeling, Gue agak memaksakan bergerak karena menurut analisa ngawur gue..kalo dibawa berenang, tangan gue bisa sembuh. Ternyata tidak, semakin sakit yang gue rasakan. Gue minta tolong penduduk sekitar untuk mengurut tangan.
Seharusnya ada acara silaturrahmi di malam hari, tapi karena gue sedang diurut maka acara dibatalkan dan mereka pun tidur. Sedangkan gue? menjerit kesakitan karena seluruh badan gue di totok, diurut dan dipijat sampai gue harus menggigit bantal. Badan gue remuk. Gue dianalisa punya penyakit rematik. Sounds not good.
Pginya, kami bangun untuk sholat tahajud, witir, tadarus dan sholat Subuh. Kami harus mengejar kapal pagi karena ada beberapa dari kami yang harus datang kondangan di siang hari. Ya..ya..lagi musim kawin. Dan katanya, datang ke kondangan adalah berkah bagi yang ingin menikah.
Jam 7 kapal beranjak dari dermaga, kami mengambil posisi masing-masing di kapal supaya perjalanan nyaman. AKhirnya jam 10 kami tiba di Jakarta dan berpisah untuk melanjutkan hari ini.
Oleh-oleh yang aku dapatkan adalah beberapa potong kertas berupa pandangan, tanggapan, saran dan masukan dari teman-teman yang telah mengenal kami selama satu semester belajar ilmu agama.
Gue puwas bukan karena bisa kembali ke Pulau Seribu, tapi karena gue sudah berhasil membawa mereka pada petualangan baru.

