Riky Kurniawan

Antara Pemasaran dan Keuangan

2 days, 9 hours ago - Tag: Dream, Opinion - Comment (3)

Ga berasa mau masuk semester 3, sekarang lagi minggu UAS. Di semester 3 dan 4 ada beberapa peminatan yang bisa dipilih: Pemasaran, Keuangan, SDM dan Perbankan.

Secara syarat masuk peminatan Perbankan adalah harus punya pengalaman 2 tahun di dunia perbankan, jadi hanya tinggal 3 pilihan buat gue. Dari 3 ini, pilihan lebih berat antara Pemasaran dan Keuangan.

Kelebihan jika memilih peminatan Pemasaran adalah gue suka membaca buku-buku strategi pemasaran, bagaimana sebuah produk bisa mempengaruhi kehidupan banyak orang dan menganalisa data (sales forecast, market survey, atau quesioner). Ga enaknya, dapetin data marketing untuk bahan thesis susah banget, butuh kerja keras karena datanya tidak disediakan begitu aja. Ada banyak siy metode pengumpulan data yang bisa dilakukan, tapi buat dapetin data primer butuh waktu dan tenaga. Data sekunder pemasaran bisa didapat dengan mudah dari Internet. Bicara soal data dari Internet, pak Nukman pernah melakukan kuisioner kecil-kecilan di twitter, dan diambil kesimpulan bahwa data yang diambil dari internet itu tidak belum bisa dijadikan referensi karya ilmiah, kecuali jurnal ilmiah yang di-share di internet.
Ide sementara gue adalah melobi pihak marketing kantor untuk berbagi data demi kepentingan riset atau kuisioner dengan hadiah menarik, iPhone misalnya (gue aja ga punya!)..yaa, apa aja dey demi kelancaran thesis.

Kalo gue milih peminatan Keuangan, masalah jadi sebaliknya. Untuk mendapatkan data, sangat amat mudah sekali. Jurnal atau laporan keuangan bisa diakses bebas, semua perusahaan yang listing di Bursa Efek (perusahaan tbk) pasti menyediakan data ini. Jadi dengan data yang ada, bisa dipastikan ga akan sulit menyusun thesis. Yang menjadi sulit adalah, sejak SMU pelajaran Akuntansi adalah momok buat gue. Gue selalu gagal untuk membuat kolom kiri dan kanan menjadi seimbang.

Dua-duanya siy sama serunya, membaca data dan mengubahnya menjadi informasi untuk diambil tindakan berdasarkan analisa.

Jadi gimana ya? mau mudah tapi ga suka atau sulit tapi suka.

hhmm..daripada pusing mikirin ini, mending gue belajar buat UAS dulu dey…sibuk mikirin yang masih jauh, mending kerjain tugas yang di depan mata.

Pakai blog gratisan atau ngurus sendiri?

1 week ago - Tag: Opinion - Comment (6)

Baiknya yang mana ya? sebenarnya siy bukan nyari mana yang baik atau engga, cuma soal kenyamanan aja.

Menurut gue kalo pakai blog sendiri (dengan hosting tentunya), kita diberi kebebasan dalam mengurus blog kita. Bisa dengan mudah menentukan themes/plugin yang mau dipakai dan punya legacy atas klaim kita di dunia maya.
Berbeda dengan blog gratisan, kita dipaksa untuk mengikuti pilihan yang terbatas dari penyedia layanan..bisa siy diakalin dengan widget atau themes modifikasi tapi dengan embel-embel nama domain penyedia layanan, menurut gue kepanjangan dan ga personal. Yang bikin enak, selain gratis tentunya reliabilitas data yang disimpan di server layanan, berbeda dengan ngurus sendiri yang kalau ada masalah harus, well..ngurus sendiri.

Ada banyak pertimbangan memilih blog gratisan dan ngurus sendiri, tapi menurut gue yang paling berat adalah masalah legacy vs keberadaan posting setelah “gue ga bisa ngurus lagi”. Dua hal ini menjadi pertimbangan berat buat gue. Bagi sebagian orang mungkin masalah ini ga penting, geje atau masalah kecil.

Gue sempat mikir, misal gue ga dikasih kesempatan lagi buat ngeblog…siapa yang mau ngurus blog gue waktu gue ga ada, padahal gue pengen postingan-postingan gue menjadi sebuah legacy jejak langkah gue. Rather bit extreme, but that’s the only way I know to live eternally…a life worth remembering. Mungkin bisa dengan menulis buku, tapi gue bukan penulis komersil yang baik. Takutnya malah ngerugiin penerbit, struktur kalimat di blog ini ga jelas.

Solusinya pakai blog gratisan, data kita bisa diakses selama penyedia layanan tetap bertahan. Tapi…gue ga suka pakai embel-embel domain layanan gtu, gmana donk?

Atau pakai domain parking atau domain forwarder aja kali ya? mungkin ini jalan tengah yang bisa diambil. Alamat sesuai keinginan kita tapi penyimpanan data di urus oleh layanan penyedia blog. Artinya gue harus migrasi postingan blog ini…hmmm

ga penting banget yak? yeah well,..just another rambling thought aja, ^^

How to assembling Rubix from scratch for dummies

1 week, 2 days ago - Tag: Opinion - No Comment (0)

Iseng mode on, disela-sela kerjaan kantor…

How to assembling Rubix from scratch for dummies

[bigger image]

2012 minus 2

2 months, 1 week ago - Tag: Opinion - Comment (7)

Tahun lalu apa-aja-yang-pengen-gue-capai tidak dijadikan konsumsi publik. Evaluasinya adalah beberapa hal lupa dijalanin karena tidak dicatat, tapi target yang masuk daftar have-to-do alhamdulillah sukses dijalanin seperti melanjutkan kuliah dan aktif di organisasi sosial. Kalo gue simpulkan, tahun lalu adalah tahun kesabaran dan komitmen. Kalo di tahun² sebelumnya, gue bisa dengan seenaknya lakuin ini itu kesana kemari..kalo tahun ini ga bisa begitu karena beberapa kegiatan seperti kuliah dan Klub sosial sangat menyita waktu.

Jika dibandingkan antara tahun 2008 dan 2009, gue semakin meyakini sebuah hipotesa bahwa jika kita membagi mimpi kita pada dunia, dunia akan berkonspirasi dan bersinergi bersama untuk mewujudkannya. Jangan takut untuk tidak bisa mewujudkan mimpi yang ada, tapi takutlah untuk takut bermimpi.

Dengan menggabungkan metode S.M.A.R.T dan teknik MindMap, gue mencoba merangkai dan memvisualisasikan target tahun depan. Semuanya Insya Alloh bisa dicapai, this is a promise I make to fellow readers and to myself. Insya Alloh buat orang on-time (makhluk langka!) seperti gue, adalah 95% usaha kita dan 5% ketentuan Alloh. 5% itu kalau di surat kontrak masuk ke pasal Force Majeure.

Resolusi 2010

Resolusi 2010

Rubicaholic

2 months, 3 weeks ago - Tag: Opinion - Comment (5)

Selama 4 hari di sela² gawean kantor dan kuliah, gue belajar bagaimana cara menyusun rubik. Candu ini berawal dari berita di TV ada yang bisa menyusun rubik dalam waktu hanya 17 detik. Gue dan Nda berdecak kagum dengan dan penasaran gimana bisa nyusun kotak 3×3 tersebut.

Akhirnya minggu lalu gue membeli rubik pertama. Jujur aja, gue rada nyesel baru kenal ama permainan ini. Kenapa? karena banyak banget nilai-nilai yang bisa di dapat dari permainan sederhana ini. Gue yang sangat amat lemah dalam hal memorizing dan dimensi, membutuhkan permainan seperti ini. Waktu tes IQ SMU dulu, nilai test ruang dimensi gue adalah nilai yang paling ancur.

rubik pertama ini gue beli di Gramedia Semanggi Plasa, tepatnya di sudut Corbuzier Shop. Dari si penjual, ada beberapa tipe rubik berdasarkan kualitas, bentuk dan warna. Karena ini permainan baru, gue ga mau neko² dulu. Rubik 3×3 is fine for a start. Rubik 3×3 ini ada banyak ragam, mulai dari yang asli sampai yang DIY (Do it Yourself). Secara komposisi warna, sama aja. Yang membedakan adalah kualitas putaran (mudah diputar dan sulit diputar) dan apakah warnanya di cat atau pake stiker.

Rubik 3×3 terdiri dari 6 warna. Selain itu, ada 2 standar komposisi warna yang diakui International. Yaitu komposisi ala USA dan komposisi ala Jepang. Yang membedakan hanya susunan warna hijau dan biru saja. Sebuah fakta yang tidak mempengaruhi hasil akhir.

1 hari pertama gue pengen tes tanpa bantuan apapun, dan hasilnya adalah sebuah susunan kubus yang tidak berpola. Tidak ingin membuang waktu lebih banyak, gue pun mulai mencari artikel dan tutorial mengenai rubik ini. Ternyata, selama ini gue hanya melompat-lompat dalam tempurung. Banyak banget metode dan algoritma yang harus dilakukan untuk bisa menyusun sebuah rubik. Ada metode layer by layer, metode corner dna metode lainnya. Untuk yang beginner kaya gue, metode layer by layer adalah awal yang bagus untuk belajar.

Selain belajar algoritma dari Jessica Fridrich tersebut, ga ada salahnya juga menonton video berseri berikut: video menyusun rubik seri satu dan video menyusun rubik seri dua.

Jika sudah mempelajari algoritma yang ada, rubik tidak lagi menjadi sebuah benda yang menakutkan lagi. Dan sekarang, dalam waktu 5 menit rubik sudah tersusun kembali. Masih jauh dari rekor dunia < 20 detik dan rekor Virkill dkk di komunitas rubik. Mereka bisa menyelesaikan rubik dengan mata tertutup dan hanya satu tangan.

rubik

Nilai-nilai yang gue dapat selama belajar Rubik:
1. Ga usah gengsi belajar dari metode yang sudah ada, belajar tanpa metode hanya akan menghabiskan waktu. Fakta #16. Jika seseorang mencoba secara acak untuk menyelesaikan permainan ini, maka waktu yang diperlukan akan melebihi umurnya sendiri.
2. Lupa makan, lupa nelpon pacar, lupa kerja karna penasaran nyusun rubik.
3. Setelah berhasil, pola pikir ruang kita akan meningkat tajam.
4. Klo udah bisa, starving for speed and another challenge buat selesaikan rubiknya.
5. Ini ga cuma berlaku buat rubik aja, semuanya bisa dipelajarin jika sungguh-sungguh. Nothing is impossible if you desperately want it.

Fakta menarik mengenai Rubik.

About

  • Only a man in a silly-red-shirt, digging for a kryptonite on this one-way street.
    (Still) trying to be something more than just a blip on the radar-screen

Elsewhere

Syndications

Meta

God, grant me the serenity to accept the things I cannot change; the courage to change the things I can; and the wisdom to know the difference.