Fakta yang mengejutkan namun tak terbantahkan

Lo pernah nonton August Rush? Buat lo yang pernah nonton, kebayang ga siy punya anak dengan bakat seperti itu? Paduan genetik seorang ibu pianist dan ayah vokalis bisa menghasilkan keturunan dengan bakat yang luar biasa.
Selama ini kita tau bahwa faktor kesuksesan itu ada 2, bakat dan kerja keras. Jika punya bakat tapi tidak mau bekerja keras, maka hasil yang dikeluarkan tidak akan maksimal. Jika tidak punya bakat tapi mau kerja keras, lo juga bisa sukses. Ada lagi yang percaya dengan faktor X, faktor kebetulan. Faktor yang bisa datang kapan saja dan ada campur tangan tuhan di dalamnya.
Selama ini, faktor di atas yang gue imani. Tapi setelah membaca buku ini, iman gue goyah.
“Outlier” is a scientific term to describe things or phenomena that lie outside normal experience
Anomali, jika diartikan.
Di buku ini, Malcolm Gladwell ini mengulas beberapa fakta penting bagaimana orang-orang sukses bisa meraih pencapaian yang luar biasa. Bukan karena bakat atau kerja keras. Mereka bekerja sebanyak manusia normal dan dengan bakat yang rata-rata.
Apa yang membedakan mereka dengan orang lain, Malcolm menyebut beberapa faktor:
- Keuntungan akumulasi
- Perlu 10.000 jam untuk menjadi seorang Expert
- Budaya
Malcolm menyadari bahwa anak-anak yang lahir pada bulan² awal akan memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan dengan anak-anak yang lahir bulan²akhir di tahun yang sama. Karena anak-anak tersebut memiliki kesempatan yang lebih besar dan jam belajar yang lebih lama dari teman-temannya.
Waktu SMP-SMA, gue sempat menganalisa kejadian ini. Beberapa teman yang menurut gue outstanding -baik secara pergaulan atau akademis- kebanyakan adalah mereka yang lahir pada bulan Januari-Februari.
Tak peduli apa yang Anda lakukan dan apa yang Anda minati, untuk bisa hebat dan terkenal Anda harus mengikuti hukum 10.000 ini. Tak terkecuali Beethoven, Ronaldo atau bapak ini. Untuk bisa melakukan sesuatu, mungkin mudah..tapi untuk mahir dan menghasilkan masterpiece dari sesuatu, lo harus bekerja 10.000 jam terlebih dahulu.
Dulu, gue sempat kagum dengan kemampuan matematis anak-anak Indonesia. Mereka dengan mudahnya menyabet emas, perak apalagi perunggu di lomba matematika kancah Internasional. Gue bilang itu dulu sebuah anugerah, tapi setelah membaca analisis dari Malcolm Gladwell..ternyata semuanya biasa saja.
Bahkan hal yang simple seperti quote/peribahasa, bisa menujukkan tingkat survavilitas suatu bangsa.
Sebenarnya ga ada yang baru, semua resep dan rahasia tentang kesuksesan sudah berserakan di mana-mana. Seperti kata temen gue mengenai filosofi: Bisa-Mampu-Mau.
Saya yakin, banyak dari kita yang bisa dan mampu, namun terhambat karena tidak mau.
13.08 2009
Hari ini, 2 tahun lalu gue membuka chapter baru dalam hidup. 13 Agustus 2007 Gue dipinang oleh sebuah perusahaan telekomunikasi anak negeri. Tak terasa waktu cepat berlalu dan sudah 24 purnama gue lalui bersama orang-orang di dalamnya.
Dari cerita teman-teman seangkatan, 2 tahun mereka sudah kawin cerai dengan banyak perusahaan. Tentu saja alasannya mencari yang lebih baik (memang seharusnya begitu). Mulai dari segi jobdesc atau gaji.
Dulu, gue juga sering ’selingkuh’ dengan tawaran beberapa perusahaan. Ketika masih bekerja gue mengikuti beberapa tawaran dari perusahaan lain. Tapi semakin sering gue mengikuti proses perekrutan, semakin gue menyadari bahwa semua pekerjaan adalah sama. Sama dalam artian bahwa ‘Try to make a living’.
Ini memang bukan pekerjaan terbaik di dunia yang gue idam-idamkan, tapi paling tidak masih bisa gue jalani. Bukankah esensi dari kebahagiaan adalah ‘menikmati yang dimiliki, bukan menginginkan yang tak dimiliki’?
Gue (dan mungkin lo), mungkin sedikit dari orang yang beruntung yang masih bisa menikmati menjalani sebuah pekerjaan. Banyak orang yang saat ini masih mencari pekerjaan karena status pengangguran mereka, dan yang paling kasihan adalah mereka yang sudah bekerja tapi tidak bisa menikmati pekerjaannya.
Apa yang sudah gue dapat 2 tahun ini?
Materi? ga banyak..gue masih belum bisa nyicil rumah dan biaya nikah.
Pengalaman? gue merasa kemampuan menjadi downgrade.
Teman? hey..gue bisa mendapatkan teman di mana saja.
Lingkungan kerja? dimana-mana sama aja, gue pernah ngerasain yang lebih tertekan lagi.
Lalu apa yang membuat gue masih bertahan sampai saat ini? Pertanyaan sama yang sering gue tanyakan dan seringkali membuat gue takjub dengan jawaban yang muncul, dedikasi dan loyalitas. Terdengar bodoh, bukan?
Dedikasi&loyalitas yang gue maksud bukanlah sesuatu yang ingin gue tunjukkan ke perusahaan, tapi sesuatu yang ingin gue buktiin ke diri gue sendiri. Apakah gue bisa mensyukuri apa yang gue dapat dan menjalaninya dengan ikhlas atau gue dengan mudahnya mencari sesuatu di luar sana? Tidak ada target berapa lama lagi gue harus membuktikan ini, tapi waktu 2 tahun bukanlah waktu yang sebentar dan gue sudah cukup puas dengan apa yang gue lakukan.
Jangan Pernah Menyerah – D’Massive
Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi
Reff 1:
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi
Back to Reff 1
Reff 2:
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal Putus asa
=============================
Lagu ini selalu terngiang dalam kepala. Acapkali secara tak sengaja berbisik mendendangkannya. Waktu di kantor, di perjalanan, bahkan waktu boker.
Walaupun lirik dan melodinya sederhana, terasa pas banget dan enak di dengar.
Kesempurnaan hanya miliknya, yang hanya bisa kita lakukan adalah mensyukuri apa yang ada dan tak henti untuk berusaha.
lead a double life
I used to want to be as a secret agent, 007 is my idol. Not only he has so many cool gadgets and admired by girls, but he can lead so many life at once. One moment he is an artist and then he become the most dangerous assassin in the world. In a day he become pilot, in a night he become an invincible spy.
I think it’s easy, but I’m wrong.
Now I lead a double life. Not as a secret agent nor as spy, but as an employee and post-graduate student. Nothing special about it, but it’s kind of thing I want to write right now.
It’s not hard though, but kind of tricky.
When things get hard at the office, you must prepare task to finish so you can submit it to the lecturer. It’s not the time I’m complain about. Its the mood you have to setup. A whole day I have to suit the employee-uniform and in the evening you have to open the notebook to see the subject’s slideshow.
In the beginning, I think its fun and have no worry about it. I’ve been there, I’ve done that. I used to stand in tougher battlefield and I survived. The differentiation is, that this battle I have to fight it alone. I have no teammate, I dont fight as a group.
I am a team player, my best come up when I’m in a team. And now, getting the fact that I have through it by myself…It sux, if I may say.
I take this road because I know, someday in a chapter of my life I need it. I know things getting tough and tough gets going. I just don’t want when I get going, I can’t enjoy every step of it.
Does a refresh-button in real life really exist, if it does I need to push it right now.
*this post is intended to smash the brick wall that separate my mind and this blog, hope I can write much more*
