Ikuti arus, tapi jangan sampai terbawa arus
Tepat waktu
Waktu gue sedang berada di lift kondo teman, gue (secara tidak sengaja) mendengarkan pembicaraan pasangan muda asing yang ngobrol dengan temannya kalau mereka akan mengajarkan nilai tepat waktu sejak dini ke anak mereka yang baru lahir. Gue ga tau pembicaraan sebelumnya, tapi tertarik dengan topik yang mereka bawa.
Ya..ya, gue tau mendengarkan pembicaraan orang itu tidak baik..tapi hey, kita sedang berada di dalam lift! salah gue kalo gue ndengerin? salah temen-temen gue?! *ngeyel*
Singkat kata, mereka kecewa dengan kita (orang Indonesia) yang sangat tidak menghargai waktu. Bahkan mereke terkejut, bertanya-tanya, dan heran kenapa kita sangat bangga dengan budaya telat ini.
Gue keluar dari lift dengan kepala mengangguk setuju.
Tepat waktu, adalah hal mewah di negeri ini. Kita sangat bangga dengan jam karet yang kita punya.
Jika kita berjanji di jam 8, artinya kita punya hak untuk datang jam 10 atau 10.30.
Jika kita berkata insya Allah, artinya kita bisa untuk tidak datang.
Jika kita setuju untuk tepat waktu, artinya kita akan tepat waktu JIKA tidak macet atau JIKA makanan di rumah sudah masak atau JIKA tidak telat bangun.
Gue sebagai orang Indonesia tulen menyadari budaya ini. Sekana telah mengalir di bulir-bulir darah, menjadi bagian unik dari DNA bangsa dan tertanam secara sistematis di palung terdalam pikira kita.
Entah kenapa, susah sekali untuk menepati janji.
Memang tidak semua meganut budaya yang sama, tapi kalo lo berjanji dengan 3 orang atau lebih seakan-akan secara berjamaah akan mengaminkan budaya ini. Dan yang lo dapat cuma alasa-alasan klasik yang sudah basi.
Menyebalkan, sungguh!
Gue yakin seyakin-yakinnya, cara bule diatas yang mengajarkan anaknya budaya tepat waktu bijak sekali. Semua berawal dari keluarga. Dan gue bersyukur, keluarga gue sudah mengajarkan itu sedari kecil.
Orang tua gue bukan orang tua modern, akan tetapi mereka sangat menghargai waktu orang lain.
Jika ada keluarga yang datang dari luar kota dan diperkirakan nyampe jam 10, maka kita harus menjemputnya jam 8.
Jika mereka berjanji setelah Ashar, maka mereka telah bersiap-siap setelah Dzuhur.
Jika dari awal sudah tidak berniat untuk datang, mereka tidak berjanji.
Waktu kecil, gue suka kesal dengan ‘gaya yang berlebihan’ orang tua pada hal waktu. Kalau ditanya kenapa cepat sekali siap-siapnya, mereka berkata ‘kita ga tau apa yang nanti terjadi di jalan (macet, ban bocor, singgah ke tempat lain)’ atau ‘lebih baik menunggu daripada ditunggu’. Walhasil, di setiap janji gue harus selalu menunggu dan walaupun gue ’sengaja untuk datang telat’, gue juga harus tetap menunggu.
Dan bagian yang paling menyebalkan adalah, ketika si tersangka berkata ‘kepagian banget lo datangnya’, ‘macet cuy!’, ‘baru bangun gue’, ‘ah, telat bentar doank’ *sigh*
Seringkali gue harus membayar mahal biaya telat mereka.
Mereka yang telat, gue yang bayar. Telat masuk bioskop, ga kebagian makanan, membatalkan janji setelahnya, mengantuk karena kelamaan menunggu, atau kuping gue yang tiba-tiba ditumbuhi jamur.
Sadar akan bahaya laten budaya yang sudah mendarah daging ini, gue memakai beberapa metode.
- Jika dia sudah terkenal dengan jam karet, berjanjilah dengannya setangah atau 1 jam sebelumnya
- Telpon / bangunkan / ingatkan / sms kalau akan bertemu 2 jam lagi
- Jika dia bukan ‘orang penting’ dan datang telat, tinggalkan!
- Katakan saja dengan jujur dan datar apa yang ‘KITA bersama’ dapat jika datang tidak tepat waktu. Misalnya ‘karena KITA ga tepat waktu, gue harus batalin janji ama si Fulan’, ‘Karena KITA telat kita ga tau intro film kaya’ apa’. Gunakan bahasa KITA sehingga menghindari menuduhnya secara frontal. Jika dia tidak terima, lo masih bisa mencari teman lain yang lebih berkomitmen untuk berjanji. Screw him!
defenisi ga penting adalah: konser akan tetap jalan, rapat akan tetap bisa dimulai, film akan diputar..jika dia tidak datang
Sejauh ini, cara diatas bisa dipakai dan dengan tingkat kesuksesan yang tinggi.
Mungkin ada yang bisa berbagi mengenai ini?
Resolusi 2009
…selesai sholat maghrib,
buka winamp, masang headphone Senheisser (sengaja sebut merk…autis gue ama headphone ini, ngebass bow!), gedein volume, mutar lagu ngacak….
login blog,,,..
buka notes dengan judul draft-resolusi’09 di blackberry hape berry-berry
tulis pembukaan, basa-basi dikit…
browsing² gitu deh,,,..cari referensi yg namanya metode S.M.A.R.T
makan bakso bentar ama teman kantor….
lanjutin nulis di blog…
..3700 sekian kata
hmmm…review bentar, koq kata-katanya jadi ngelindur ya…?
select-all, delete…
Memutuskan resolusi tahun 2009 tidak akan menjadi konsumsi publik.
*inhale….exhale*
Next year is gonna be rough, tough and need more serious attention.
“being different is hard, but..being normal is harder”
Who is free2rhyme@yahoo.com?

Pernah liat id free2rhyme@yahoo.com? kalo lo punya email yahoo! pasti ga asing ama id ini.
Karena penasaran, gue googling siapa dia. Ternyata gue ga sendiri.
8 hal yang menjadi pelajaran di 2008
- Teruslah belajar dan eksplorasi hal baru
- Cintai yang kamu punya
- Bekerjalah dengan orang² terbaik
- Fokus pada sasaran
- Tidak semua yang dimimpikan dapat terwujud
- Berusaha dan berikhtiar
- Bersenang-senanglah!
- Gunakan pelajaran diatas untuk tahun-tahun berikutnya =d
Akan membosankan berkutat dan mengerjakan hal-hal yang bersifat rutin setiap harinya. Cari sesuatu yang dapat memecah kegiatan rutin itu sehingga memberi warna pada hidup kita. Selain menambah keahlian baru juga memberi nilai lebih pada diri sendiri. Jangan takut untuk mencoba sesuatu untuk pertama kalinya. Katakan pada dunia bahwa kita tidak takut, pejamkan mata dan rasakan sensasinya.
Hidup akan jadi lebih bahagia jika kita bisa menghargai yang kita miliki dan mengurangi hal-hal yang kita inginkan. Punya kemauan banyak itu bagus selama berbanding lurus dengan usaha dan ikhtiar. Syukuri dan sayangi apa yang telah menjadi milik kita.
Jika mereka tidak sadar dengan kemampuan mereka, bantu mereka mengeluarkan kemampuan terbaik itu. Potensi kita akan keluar lebih besar jika bersama dengan orang-orang besar. Menjauhlah dari orang-orang apatis dan pesimis, mereka hanya penghambat laju gerak kita. Jadilah orang penting dengan menjadi penting buat orang lain.
Berikan waktu untuk dapat memilih sedkit dari banyak target yang ingin dicapai. Kita bukan Superman dengan segala kemampuannya. Susun skala prioritas pada keinginan berdasarkan tingkat urgensi (waktu) dan kepentingan. Kalau menurut Stephen Covey dalam Seven Habit of Highly Effective People, aktifitas itu bisa kita bagi 2 kategory yaitu dari sisi Urgency dan Important(kepentingan). Urgency adalah dilihat dari sisi awarenes dan perhatian kita. Semakin tinggi urgency nya, semakin kita dituntut untuk memberikan perhatian lebih.
Important dilihat dari sisi kepentingan aktivitas kita, dilihat dari hasil yang akan dicapai. Apakah hasilnya penting atau tidak.
A lesson learned . Don’t sad because it’s happen, smile because it happen. =)
Kita hanya makhluk kecil yang berusaha dengan kemampuan terbatas. Minta “kekuatan besar” pada sang pencipta agar hal-hal tidak mungkin menjadi mungkin. Jika DIA mengizinkan, akan ada tangan-tangan ajaib tak terlihat yang membantu kita menangkat beban yang berat sekalipun.
Beri hadiah pada diri sendiri. Sedikit waktu untuk diri sendiri akan cukup membuktikan bahwa kita juga menghargai diri sendiri atas pencapaian yang sudah diraih.
Evaluasi setiap kejadian, ambil hikmahnya dan jadilah manusia yang lebih baik di tahun mendatang.
Untuk resolusi tahun lalu, Alhamdulillah. =)


