Riky Kurniawan

BTel Blogger

1 year, 4 months ago - Tag: Uncategorized - Comment (2)

Let me introduce you to the new planet in the blogosphere, civilized and inhabited by BTel employee to express their personal idea.

BTel blogger.

In love with photography

1 year, 4 months ago - Tag: Opinion - Comment (7)

Gue lagi jatuh cinta, jatuh cinta dengan dunia fotografi. Lama rasa ini dipendam, dan sekarang baru bisa berenang dan tenggelam didalamnya. *lebaaayyyyy*

Di awal tahun ini, punya niat untuk mempelajari fotografi dan Alhamdulillah diberi jalan. Dengan pertimbangan yang panjang dan baca beberapa review, gw pilih Canon sebagai senjata, bukan karena satu produk lebih baik dengan yang lain, pada akhirnya kembali lagi pada man behind the gun.

Akan jadi perdebatan yang panjang untuk membahas fitur dan kelebihan masing-masing produk.

Karena masih bodoh di bidang ini, gue harus banyak belajar. Yang sudah dan akan terus gue lakukan adalah membaca dan latihan. Puluhan buku, majalah, dan judul artikel yang udah gue baca. Ratusan karya fotografi gue amati. Semua demi mempertajam sense dan skill fotografi. Mulai dari belajar tentang teori dan komposisi warna, pengaturan cahaya, settingan kamera, exposure, apperture, shutter speed, perbedaan dan guna filter dan lensa, angle terbaik dari satu obyek, penentuan golden hour, dan hal teoritis lainnya.

Let say, to awaken the sleeping dragon inside.
Cara ini adalah cara yang sama waktu gue balajar Oracle dan programming. There is no easy way to learn something, get your hands dirty…

Selain memahami teori, prakter turun lapangan juga harus dilakukan. Temukan obyek, jepret, lihat dan pelajari hasilnya. Modal awalnya adalah muka batu tak tahu malu. Lihat hasil jepretan pelajari apa yang kurang, kalo kurang yakin dengan penilaian sendiri upload foto itu di komunitas fotografi online, mungkin aja ada orang baik di sana yang mau ngasi masukan gimana buat hasilnya lebih baik lagi.

Semua bisa dijadikan obyek fotografi, mulai dari bunga yang sedang mekar, keceriaan anak² di taman, raut muka kecapekan penjaja makan jalanan, apapun. Dengan banyak latihan, kita bisa tahu bagaimana settingan terbaik untuk mengambil objek berikutnya. Juga, kita bisa tahu minat dan spesialisasi kita ada di bidang mana. Apakah landscape, mikro, human interest wedding photography atau model.

Gabung di komunitas (online/offline) bisa jadi salah satu media sharing atau belajar. Mencuri ilmu adalah pencurian yang dihalalkan oleh agama, jadi silahkan dilakukan :P

Sekian dulu cerita kali ini.
Kalo lo iseng dan punya spare time, silahkan kunjungi flickr ini buat liat koleksi jepret gue. Gue masih newbie jadi masih banyak yang harus dipelajari, komentar dan kritik sangat gue harapkan demi proses pembelajaran gue.

Mudikology 4: New Sikuai Island

1 year, 5 months ago - Tag: Opinion - Comment (9)

Masih berlanjut dengan cerita mudik kemarin, rencananya seri ke-4 ini pengen cerita soal travelling ke Pulau Sikuai bersama keluarga. Karena waktu dan mood yang fluktuatif, agak malas juga buat ngeblog.

Kebetulan adek gue juga udah ngeblog soal travelling kemarin, jadi kalo pengen tahu cerita seri ke-4 ini langsung saja ke blog ini, sekalian promosi blog adek gue.

Side of the beach, Sikuai Island

Hari lebaran pertama, aku dan keluarga bergegas berangkat dari Batusangkar menuju Padang. Tepatnya jam 10.30 yaitu setelah sholat Ied, makan ketupat (tak lengkap rasanya kalau lebaran tak makan ketupat, walaupun terburu-buru) bersama keluarga, dan bersalam-salaman. Kenapa harus hari pertama lebaran? Buknnya mau melarikan diri atau tidak mau bersilaturahmi bersama keluarga di hari lebaran. Tapi, waktu kami di sana sangat sedikit. Jadi, kami harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Bersilaturahmi bersama kerabat sudah kami lakukan sebelum hari lebaran. Setibanya di Padang, kami langsung menuju Dermaga Wiasata Bahari Batang Arau. Melakukan reservasi dan menunggu keberangkatan. Kira-kira pukul 14.30, kami meninggalkan dermaga menuju Sikuai menggenakan speedboat yang hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Laut biru, pulau-pulau kecil yang bertebaran, dan langit yang luas menjadi pemandangan yang yang menakjubkan selama perjalanan. Subhanallah… Sungguh ciptaan Allah yang sangat indah.

Comot dari: http://dewiariesi.blogspot.com/2008/10/new-sikuai-island.html

kalo pengen liat gallery Sikuai lainnya dari jepretan gue, silahkan meluncur ke album Flickr

-end of mudikology series-

Mudikology 3: Photo Hunting session

1 year, 5 months ago - Tag: Opinion - Comment (3)

This post is contain with heavy-image materials, and not intended to fakir-bandwidth visitor :D

misty village
jalan pematang sawah

Kalau boleh promosi, kampung gue adalah salah satu dari banyak daerah di Indonesia yang dianugerahi tuhan dengan keindahan alam. Barisan gunung, hamparan laut, pesisir pantai putih, danau yang membiru, sawah hijau yang membentang dan karya tuhan lainnya yang acapkali membuat kita takjub berkata Subhanallah.

jalan pematang
langit biru

Sayangnya anugerah tersebut tidak dimanfaatkan oleh pihak terkait sebagai sebuah industri sehingga layanan yang didapat pengunjung tidak maksimal.

mentari pagi hari
nyiur melambai

Kebetulan gue pengen menjajal kemampuan senjata baru, the Rebel XSI. Dengan Delvi dan Dewi (adek gue), mencari spot untuk dijadikan sasaran tembak. Sasaran pertama setelah sahur adalah hamparan sawah yang membentang di belakang rumah. Gue sempat khawatir karena selama perjalanan ke rumah gue banyak melihat sawah baru saja dipanen, artinya hamparan sawah permadani hijau dan kuning tidak bisa kita dapatkan. Beruntung, ada beberapa petak sawah yang sudah lama ditanam.

Depan dan belakang
Menunggu

Selain sawah, kita juga hunting di sungai, gunung, hutan, semak belukar, lumpur…hehehe,,extreme-mode

Yellow Flower
dibawah hamparan sawah hijau dan langit biru

Kita juga nyobain bereksperimen dengan kembang api

Minal Aidin Wal Faidzin

Fact: Untuk membuat 4 kata Minal Aidin Wal Faidzin membutuhkan 7pack kembang api (1pack=10batang)

Untuk jepretan yang lain, langsung aja ya: http://www.flickr.com/photos/herowannabe/sets/72157607748755306/

Mudikology 2: Yang beda yang sama lebaran 1429H

1 year, 5 months ago - Tag: Opinion - Comment (6)
langit biru

Hari pertama lebaran, kita sekeluarga menuju lapangan terminal untuk melaksanakan sholat Ied. Mungkin sama dengan kampung lainnya, banyak sekali perantauan yang mudik tiap lebaran. Tradisi yang menjadi khas suku MinangKabau adalah merantau. Kembali dari perantauan ke kampung halaman merupakan kebanggan tersendiri.

mesjid al amin

Yang tetap sama di tiap lebaran kampung adalah:
• Ketupat dan opor
Udah khasnya lebaran. Kalo ga menyajikan ini, rasanya ada yang kurang di ahri lebaran.
• Rendang
Makanan khas minang, dimasak di kuali besar dan bisa bertahan hingga mingguan.
• Kuliner
Makanan minang sudah terkenal akan khasnya yang spicey, pedas dan gurih. Kesempatan ini tidak bisa dilewatkan begitu saja, bukannya mau balas dendam karena sebulan menahan lapar dan haus tapi karena jarang sekali bisa makan makanan favorit gue langsung di sumbernya. Walopun rumah makan Padang ada di mana-mana, tapi tetap saja sensasi pedas di udara yang dingin tidak bisa ditemukan di sini. Mulai dari pecal, rendang, dendeng, ketupat, dan masakan penggoyang lidah lainnya.
• Silaturrahmi
Saatnya bermaaf-maafan. Menjalin tali silaturrahmi yang sempat renggang, berbagi cerita, tawa dan keceriaan di hari kemenangan.
• Travelling
Ini yang harus, wajib dan setiap tahun dilakukan. Sumatera Barat adalah gudangnya wisata alam. Danau yang terserak di mana-mana, Gunung yang berbaris, Laut lepas yang membiru, Pantai yang memanjang, Sawah yang terhampar dan Air Terjun yang bisa ditemukan dengan mudah menjadi wisata tersendiri bagi orang-orang yang begah dengan suasana kota. Tahun ini, kita sekeluarga mencoba ke pulau Sikuai. Untuk wisata kali ini akan gue bahas di post tersendiri.
• Baju teluk belanga
Biar suasana lebaran semakin kelihatan. :)

family_7

Yang berbeda lebaran kampung kali ini adalah:
• Sepi
Kalo dulu, ada 20 cucu nenek gue yang ngumpul. Tapi kini cucu-cucu itu telah dewasa dan keceriaan masa kecil hanya tinggal kenangan.
• Beda rumah
Rumah gadang di simpang adalah rumah kebanggaan turun temurun keluarga, setiap keluarga yang mudik tidur dan tinggal di rumah tersebut. Nenek gue punya 11 anak, jika masing-masing anak membawa minimal 2 cucu, bisa dibayangkan ramainya penghuni rumah ketika lebaran. Rumah itu kini kurang terawat karena masing-masing anaknya membangun rumah di sekitar termasuk keluarga gue. Keceriaan itu kini menyebar.
• Sedikit mainan
Setiap ngumpul, kita punya satu kekompakan yaitu punya banyak kreatifitas permainan. Entah koran bekas yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi UFO api yang bisa terbang, pelepah daun yang jadi bola api, menjaring ikan di kolam (luak) keluarga, dan permainan tradisional lainnya. Kali ini semua sudah disibukkan dengan urusannya masing-masing.
• THR
Kalo lebaran dulu gue dapat jatah THR dari tiap om, tante atau handai taulan yang lain, kali ini gue dapat jatah ngasi THR ke adik-adik. Baru tahu rasanya senang sekali bisa melihat senyum ceria mereka menerima selembar dua lembar angpao dari kita.

jalan pematang
  • Page 1 of 2
  • 1
  • 2
  • >

About

  • Only a man in a silly-red-shirt, digging for a kryptonite on this one-way street.
    (Still) trying to be something more than just a blip on the radar-screen

Elsewhere

Syndications

Meta

God, grant me the serenity to accept the things I cannot change; the courage to change the things I can; and the wisdom to know the difference.