Some ppl changes some others not
“I don’t care about the past, I believe in the power to reinvent yourself.” – Lex Luthor
Gue (pernah) berpegang teguh pada kata-kata Lex Luthor di atas. Pernah menghadapi seseorang dengan masa lalu yang mungkin hanya sedikit orang bisa mengerti, bahkan banyak yang menggelengkan kepalanya serasa tak percaya akan apa yang dilihat di luar.
Waktu itu gue percaya bahwa seseorang bisa berubah, dengan hero-complex yang menjangkiti *kebanyakan nonton film hero*, menjadi bagian perubahan seseorang adalah pencapaian yang luar biasa. Waktu itu rela meninggalkan dunia sendiri demi membangun utopia yang dia rindukan, sebuah dunia yang hanya ada menurut cara dan pikirannya sendiri.
Tapi, ga semua orang bisa menerima perubahan. Sesuatu yang menjadi kebiasaan akan sulit untuk diarahkan.
Watch your thoughts: They become your words.
Watch your words: They become your actions.
Watch your actions: They become your habits.
Watch your habits: They become your character.
Watch your character: It becomes your destiny.
Gue pun ingat posting jadul dan status teman di facebooknya bahwa: Sama halnya dengan fotografi atau travelling, selingkuh pun adalah sebuah hobby.
We never learn the history because seeing is believing
Apa yang gue dapat setelah ESQ?
Beberapa hari lalu gue ikutan training leadership ESQ. Karena status lebay gue di Facebook, banyak teman yang bertanya tentang apa itu ESQ, apa yang disampaikan di sana dan manfaatnya setelah gue ikutan.
Gue sendiri ketika mendapatkan pertanyaan ini agak bingung menjawabnya. Untuk teman-teman yang punya banyak waktu dan sadar dalam kondisi emosi yang kurang baik, gue menyempatkan diri menyampaikan gambarannya. Selain itu, kebanyakan hanya menjawab simple dan tidak tendeng aling. Ini soal pengalaman yang harus dirasakan sendiri. Sama halnya ketika gue melakukan travelling ke suatu tempat, akan sulit menceritakan bagaimana perasaan dan pengalaman gue selama melakukan perjalanan.
Mungkin pengalaman gue berbeda dengan teman yang ikut bersama, mungkin juga pengalaman kita berbeda dengan pengalaman 500 orang lainnya.
Lalu bagaimana menyampaikan ke orang-orang apa yang gue dapat selama 3 hari tersebut?
Mungkin kira-kira begini:
- Makanannya enak
- Technologi yang digunakan dahsyat
- Ruangannya dingin
- Banyak dapat kenalan
- Ini bukan pengajian, tapi training kepemimpinan
- EQ+IQ+SQ
- Banyak Gamesnya
- Undangan makan siang bareng
- Belajar bahwa hidayah itu ga bisa diberikan gratis, dibeli atau diturunkan
- Lo jadi tau alasan kenapa harus beribadah
Sesi makan siang adalah sesi yang paling ditunggu-tunggu. Entah kenapa, rasanya makanan yang disediakan begitu enak. Mungkin karena makan secara bersama sembari ngobrol atau mungkin karena energi yang habis ketika masa training sehingga membuat perut membutuhkan asupan energi lebih banyak.
Selama masa training emosi akan dipermainkan, energi akan diperas, dan logika akan di guncang oleh beberapa fakta yang ada.
4 layar lebar 4x6M dengan sound system berkekuatan 40KW menjadi sarana penyampaian materi. Animasi 3D juga digunakan untuk membantu kita memvisualisakan keagungan-NYA.
Lo ga akan bosan mendengarkan materi selama 3 hari penuh. Ini bukan pengajian yang hanya mempertanyakan iman tapi juga pembelajaran yang menggelitik kemampuan logis.
Teman yang sudah menggunakan syal dan jaket pun masih merasakan dingin dari ruangan yang besarnya lebih luas dari studio 1 blitzmegaplex.
Lumayanlah menambah jaringan silaturrahmi.
Setelah lulus dari ini, lo ga bakalan jadi sufi. Lo akan lebih mengenali diri lo sendiri dan alasan kenapa lo diciptakan olehNYA. Lo akan menemukan kebahagiaan hakiki bukan kebahagiaan semu yang lo dapat dari mencari harta, kekuasaan ataupun cinta.
Mendapatkan harta atau kekuasaan adalah hal yang wajar tapi itu bukanlah menjadi fokus atau prioritas utama dalam hidup.
Apalagi mencari cinta dengan berperilaku seperti pelacur.
Training ini akan mengajarkan kita untuk menggabungkan 3 kecerdasan manusia. Kecerdasan yang selama ini kita kotak-kotakkan.
Seharusnya 3 kecerdasan ini bekerja secara sinergi.
Banyak permainan banyak hadiah. Gue sendiri terpilih menjadi King ESQ eksekutif angkatan 90. yay!
Sepulang dari ESQ gue mendapatkan beberapa hadiah seperti buku, DVD dan boneka…heuehhe
Pada hari ketiga, entah kenapa nama gue masuk dalam daftar orang yang diajak makan siang bersama Ary Ginanjar dan beberapa tokoh. Dari rombongan yang ada, mungkin gue salah satu dari orang yang bukan siapa-siapa. Sungguh sebuah kehormatan.
Dapat souvenir lagi…
Gue mendaftarkan seorang kenalan yang menurut gue sangat butuh penyadaran diri. Sebulan lebih gue mempersiapkan semuanya, berawal dari sebuah mimpi ketika bertemu orang yang sangat dicintainya. Tapi entah kenapa H-1 ajakan tersebut dibatalkan dengan hal-hal yang menurut gue seharusnya tidak terjadi.
Dan gue disadarkan oleh orang yang menggantikannya, bahwa hidayah itu tidak bisa dipaksakan. Mungkin suatu saat dia bisa menemukan cinta sejatinya dan berhenti untuk selingkuh hati.
Mungkin kita memang rajin sholat, mungkin kita rutin berpuasa Senin-Kamis atau mungkin kita dengan mudahnya mengeluarkan uang untuk berzakat.
Tapi apakah kita tau esensi kenapa kita melakukan itu?
Apa yang kita rasakan ketika dan setelah sholat? apakah kosong, tanpa makna dan tidak berasa apa-apa?
Apa yang kita dapat setelah kita berpuasa? apa kita masih bisa menahan nafsu?
Apa yang kita pelajari dari zakat? apakah kita masih sering menyakiti orang lain?
Apakah kita paham atau paling tidak tahu arti dari bacaan sholat kita?
Itu sedikit dari pengalaman yang bisa gue bagi, selebihnya adalah pengalaman yang hanya bisa dirasakan oleh hati dan sulit untuk dibagi.
Mudah-mudahan kita semua bisa menjadi pemimpin dan mengarahkan makmum kita menuju ridho-NYA.
Hidayah
Gue belajar bahwa:
Hidayah itu tidak bisa dibeli, diberikan gratis ataupun diturunkan.
Mudah-mudahan kita semua dibukakan pintu hatinya untuk bisa terus menuju perubahan lebih baik berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, entah hidayah itu datang darimanapun jalannya.
Dear Pa,
Assalamu’alaikum Pa,
Kau mengingatkanku untuk memberi sedikit ruang pada kesabaran,
Kau meyakinkanku saat kau mengalungkan tanganmu pada pundakku,
Kau mempercayakanku untuk bisa menjalankannya,
Maafkan aku yang gagal menjalankan amanahmu.
Aku tak pernah bertemu denganmu,
Aku tak pernah berbicara denganmu,
Aku tak pernah mencium baumu,
Tapi aku seolah nyata merasa kehangatanmu di depanku.
Sekilas aku menangkap pesan yang ingin kau kirimkan,
Sekilas aku mengerti apa maksudmu masuk dalam mimpiku,
Sekilas aku paham kenapa kau menatapku dalam-dalam waktu itu,
Bahwa kau bahagia di sana dan mengharapkan kebahagiaan yang sama untuknya.
Aku tak pernah mengerti kenapa harus bertemu denganmu,
Aku juga tak pernah mengerti kenapa tidak bisa membiarkannya liar,
Dan aku tak pernah tahu bagaimana bisa melakukan semua,
Mungkin karena kita sama, ingin membahagiakannya.
Maaf Pa, aku gagal kali ini.
Mungkin Pa, jika kau memberiku sedikit petunjuk nanti,
Pasti Pa, doaku kan selalu untukmu dan untuknya.
Beban Pesan yang kau sampaikan padaku ketika kita bermain Tennis, gagal terlaksana.
Mungkin oleh ku atau oleh nya, atau mungkin oleh kami berdua.
Alloohummaghfir li (…) warfa’ darajatahuu fil mahdiyyiin wakhlufhu fii aqibihii fil ghaabiriin waghfir lanaa walahuu yaa rabbal aalamiin wafsah lahuu fii qabrihi wa nawwir lahuu fiihi.
Emotional Spiritual Quotient
Ada yang pernah ikutan ga? share donk pengalaman spiritualnya.. *berasa banyak yang baca blog ini
Lagi butuh yang beginian, sebelum tanduk merah di kepala gue makin tumbuh.
===========================
Membaca buku ini, seperti menguak tabir rahasia tentang adanya korelasi yang sangat kuat antara dunia usaha, profesionalisme dan manajemen modern, dalam hubungannya dengan intisari Islam, yaitu Rukun Iman dan Rukun Islam. Pemahaman dan pendalaman kedua unsur inti ini, telah melahirkan sebuah pemikiran baru yang segar yang dinamakan ESQ atau Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Penulis buku ini, Ary Ginanjar, adalah seorang pengusaha muda yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal mengenai keagamaan atau psikologi. Ia mendalami bidang keagamaan dengan mandiri melalui metode “kemerdekaan berpikir”. Dalam buku ini, ia berusaha menggabungkan Emotional Intelligence (EQ) yang didasari dengan hubungan antara manusia dengan Tuhannya (SQ), sehingga menghasilkan ESQ: Emotional and Spiritual Quotient. Ary Ginanjar memaparkan pemikirannya melalui sebuah ESQ Model, yang menggambarkan seluruh pemahaman dan fenomena secara komprehensif. Bermula dari titik fitrah, berlanjut kepada pembangunan prinsip hidup yang membangun mental, hingga ketangguhan sosial yang dirangkumkan secara berintegrasi.
Buku ini terdiri dari empat bagian yang masing-masing memaparkan mengenai unsur-unsur yang terdapat pada ESQ Model. Pada bagian satu ( Zero Mind Process–Penjernihan Emosi), penulis mengharapkan pembaca dapat berpikir secara jernih terlepas dari belenggu pemikiran yang selama ini menghalangi kecerdasan emosi manusia. Hasil dari penjernihan emosi ini dinamakan “God-Spot” atau fitrah. Pada bagian dua ( Mental Building), Ary Ginanjar menjelaskan tentang arti pentingnya alam pikiran. Di tahap ini, penulis menjabarkan mengenai cara membangun alam berpikir dan emosi secara sistematis berdasarkan Rukun Iman yang diperkenalkan dengan istilah Enam Prinsip, yaitu:
Star Principle – Prinsip Bintang (Iman kepada Allah)
Angel Principle – Prinsip Matahari (Iman kepada Malaikat)
Leadership Principle – Prinsip Kepemimpinan (Iman kepada Nabi dan Rasul)
Learning Principle – Prinsip Pembelajaran (Iman kepada Al Qur’an)
Vision Principle – Prinsip Masa Depan (Iman kepada Hari Kemudian)
Well Organized Principle – Prinsip Keteraturan (Iman kepada Ketentuan Allah)
Pada bagian tiga (Personal Strength–Ketangguhan Pribadi), berisi mengenai penjabaran mengenai tiga langkah pengasahan hati yang dilaksanakan secara berurutan dan sangat sistematis berdasarkan Rukun Islam. Langkah ini dimulai dengan Mission Statement (Dua Kalimat Syahadat), dilanjutkan dengan Character Building (Shalat 5 Waktu) dan diakhiri dengan Self Controlling (Puasa). Dengan melakukan ketiga langkah ini, pembaca diharapkan dapat memiliki ketangguhan pribadi. Menurut penulis, ketangguhan pribadi perlu diimbangi dengan ketangguhan sosial yang dapat diwujudkan dengan pembentukan dan pelatihan untuk melakukan sinergi dengan orang lain atau dengan lingkungan sosialnya. Pelatihan yang diberikan dinamakan Strategic Collaboration atau Langkah Sinergi (Zakat) dan Total Action atau Langkah Aplikasi Total (Haji).
Inti dari buku ini adalah untuk menjadi seorang yang sukses, tidak hanya dibutuhkan intelegensi yang tinggi tapi juga kecerdasan emosi yang tidak hanya berorientasi pada hubungan antar manusia semata tapi juga didasarkan pada hubungan manusia dengan Tuhannya. Buku ini mensinergikan kebenaran ajaran Islam dengan penemuan ilmiah dan teori-teori dari para pakar ilmu pengetahun di “Barat”, khususnya ilmuwan di bidang EQ atau kecerdasan emosi.
Buku yang perlu dibaca, tidak hanya oleh kalangan agamawan atau ilmuwan tetapi juga oleh masyarakat umum. Dan hendaknya dijadikan bahan acuan pemikiran dan langkah bagi masyarakat Indonesia pada umumnya dan umat Islam khususnya demi kemajuan bangsa dan negara secara keseluruhan.
[source:http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=9&ch=buku&id=541]
