Update Q2 & Q3 2010
Keeping up the progress and be consistent is hard. Though, it’s not impossible.

Howdy all,
Sudah lama banget gue ga update cerita di blog ini, well..post terakhir tentang backpacking ke Ho Chi Minh City, itu juga posting yang sudah diketik sekian lama dan baru sempat di-publish baru-baru ini.
Sekarang lagi ada di jalur cepat dan dalam sedang berpacu dengan waktu. Q2 dan Q3 adalah masa-masa berat di tahun 2010 ini, tidak hanya disibukkan oleh pekerjaan kantor saja tapi juga hal-hal besar lainnya. Ya mungkin tidak terlalu BESAR seperti aktivitas teman-teman yang lain, tapi cukup menguras tenaga dan menyita waktu.
Biar cerita ini terstruktur mari kita evaluasi apa yang sudah dilakukan selama 2x 4 bulan kebelakang.
(more…)
Solo Backpacking to Ho Chi Minh City
Kali ini ingin berbagi catatan perjalanan “Solo Backpacking ala RK ke Ho Chi Minh City” yang dilakukan beberapa waktu lalu. Sepertinya siy sudah lamaaa banget, saya sendiri sudah lupa kapan ini dilakukan, keteter karena lagi asik dengan kerjaan yang baru. Semoga dengan catatan pendek ini bermanfaat untuk teman-teman yang ingin melakukan perjalanan serupa. Tentunya akan banyak sekali poin-poin yang terlewatkan dalam perjalanan ataupun catatan ini, akan lebih bermanfaat jika ada informasi tambahan yang dapat dibagi bersama melalui kolom komentar.
Mengenai Ho Chi Minh City
Ho Chi Minh adalah ibukota negara Vietnam yang dulunya bernama Saigon. Hingga saat ini, nama Saigon tetap dipakai merujuk ke wilayah District 1 di kota Ho Chi Minh City. Ada sekitar 19 district di kota Ho Chi Minh City.
Dengan sejarah yang dimilikinya, Ho Chi Minh memberikan sensasi petualangan yang tidak mungkin didapat dari tempat lain. Mulai dari budaya masyarakat yang unik hingga sejarah perjuangan tentara Vietnam melawan Amerika.
Dulunya, Saigon adalah bagian dari negara Kamboja. Pernah menjadi koloni Perancis pada abad ke-18. Karena bekas jajahan negara yang terkenal dengan konsep tata kota yang baik bagi pedestrian, maka banyak sekali fasilitas-fasilitas kota yang bisa dinikmati oleh masyarakat kelas pejalan kaki.
(more…)
Some ppl changes some others not
“I don’t care about the past, I believe in the power to reinvent yourself.” – Lex Luthor
Gue (pernah) berpegang teguh pada kata-kata Lex Luthor di atas. Pernah menghadapi seseorang dengan masa lalu yang mungkin hanya sedikit orang bisa mengerti, bahkan banyak yang menggelengkan kepalanya serasa tak percaya akan apa yang dilihat di luar.
Waktu itu gue percaya bahwa seseorang bisa berubah, dengan hero-complex yang menjangkiti *kebanyakan nonton film hero*, menjadi bagian perubahan seseorang adalah pencapaian yang luar biasa. Waktu itu rela meninggalkan dunia sendiri demi membangun utopia yang dia rindukan, sebuah dunia yang hanya ada menurut cara dan pikirannya sendiri.
Tapi, ga semua orang bisa menerima perubahan. Sesuatu yang menjadi kebiasaan akan sulit untuk diarahkan.
Watch your thoughts: They become your words.
Watch your words: They become your actions.
Watch your actions: They become your habits.
Watch your habits: They become your character.
Watch your character: It becomes your destiny.
Gue pun ingat posting jadul dan status teman di facebooknya bahwa: Sama halnya dengan fotografi atau travelling, selingkuh pun adalah sebuah hobby.
We never learn the history because seeing is believing
Apa yang gue dapat setelah ESQ?
Beberapa hari lalu gue ikutan training leadership ESQ. Karena status lebay gue di Facebook, banyak teman yang bertanya tentang apa itu ESQ, apa yang disampaikan di sana dan manfaatnya setelah gue ikutan.
Gue sendiri ketika mendapatkan pertanyaan ini agak bingung menjawabnya. Untuk teman-teman yang punya banyak waktu dan sadar dalam kondisi emosi yang kurang baik, gue menyempatkan diri menyampaikan gambarannya. Selain itu, kebanyakan hanya menjawab simple dan tidak tendeng aling. Ini soal pengalaman yang harus dirasakan sendiri. Sama halnya ketika gue melakukan travelling ke suatu tempat, akan sulit menceritakan bagaimana perasaan dan pengalaman gue selama melakukan perjalanan.
Mungkin pengalaman gue berbeda dengan teman yang ikut bersama, mungkin juga pengalaman kita berbeda dengan pengalaman 500 orang lainnya.
Lalu bagaimana menyampaikan ke orang-orang apa yang gue dapat selama 3 hari tersebut?
Mungkin kira-kira begini:
- Makanannya enak
- Technologi yang digunakan dahsyat
- Ruangannya dingin
- Banyak dapat kenalan
- Ini bukan pengajian, tapi training kepemimpinan
- EQ+IQ+SQ
- Banyak Gamesnya
- Undangan makan siang bareng
- Belajar bahwa hidayah itu ga bisa diberikan gratis, dibeli atau diturunkan
- Lo jadi tau alasan kenapa harus beribadah
Sesi makan siang adalah sesi yang paling ditunggu-tunggu. Entah kenapa, rasanya makanan yang disediakan begitu enak. Mungkin karena makan secara bersama sembari ngobrol atau mungkin karena energi yang habis ketika masa training sehingga membuat perut membutuhkan asupan energi lebih banyak.
Selama masa training emosi akan dipermainkan, energi akan diperas, dan logika akan di guncang oleh beberapa fakta yang ada.
4 layar lebar 4x6M dengan sound system berkekuatan 40KW menjadi sarana penyampaian materi. Animasi 3D juga digunakan untuk membantu kita memvisualisakan keagungan-NYA.
Lo ga akan bosan mendengarkan materi selama 3 hari penuh. Ini bukan pengajian yang hanya mempertanyakan iman tapi juga pembelajaran yang menggelitik kemampuan logis.
Teman yang sudah menggunakan syal dan jaket pun masih merasakan dingin dari ruangan yang besarnya lebih luas dari studio 1 blitzmegaplex.
Lumayanlah menambah jaringan silaturrahmi.
Setelah lulus dari ini, lo ga bakalan jadi sufi. Lo akan lebih mengenali diri lo sendiri dan alasan kenapa lo diciptakan olehNYA. Lo akan menemukan kebahagiaan hakiki bukan kebahagiaan semu yang lo dapat dari mencari harta, kekuasaan ataupun cinta.
Mendapatkan harta atau kekuasaan adalah hal yang wajar tapi itu bukanlah menjadi fokus atau prioritas utama dalam hidup.
Apalagi mencari cinta dengan berperilaku seperti pelacur.
Training ini akan mengajarkan kita untuk menggabungkan 3 kecerdasan manusia. Kecerdasan yang selama ini kita kotak-kotakkan.
Seharusnya 3 kecerdasan ini bekerja secara sinergi.
Banyak permainan banyak hadiah. Gue sendiri terpilih menjadi King ESQ eksekutif angkatan 90. yay!
Sepulang dari ESQ gue mendapatkan beberapa hadiah seperti buku, DVD dan boneka…heuehhe
Pada hari ketiga, entah kenapa nama gue masuk dalam daftar orang yang diajak makan siang bersama Ary Ginanjar dan beberapa tokoh. Dari rombongan yang ada, mungkin gue salah satu dari orang yang bukan siapa-siapa. Sungguh sebuah kehormatan.
Dapat souvenir lagi…
Gue mendaftarkan seorang kenalan yang menurut gue sangat butuh penyadaran diri. Sebulan lebih gue mempersiapkan semuanya, berawal dari sebuah mimpi ketika bertemu orang yang sangat dicintainya. Tapi entah kenapa H-1 ajakan tersebut dibatalkan dengan hal-hal yang menurut gue seharusnya tidak terjadi.
Dan gue disadarkan oleh orang yang menggantikannya, bahwa hidayah itu tidak bisa dipaksakan. Mungkin suatu saat dia bisa menemukan cinta sejatinya dan berhenti untuk selingkuh hati.
Mungkin kita memang rajin sholat, mungkin kita rutin berpuasa Senin-Kamis atau mungkin kita dengan mudahnya mengeluarkan uang untuk berzakat.
Tapi apakah kita tau esensi kenapa kita melakukan itu?
Apa yang kita rasakan ketika dan setelah sholat? apakah kosong, tanpa makna dan tidak berasa apa-apa?
Apa yang kita dapat setelah kita berpuasa? apa kita masih bisa menahan nafsu?
Apa yang kita pelajari dari zakat? apakah kita masih sering menyakiti orang lain?
Apakah kita paham atau paling tidak tahu arti dari bacaan sholat kita?
Itu sedikit dari pengalaman yang bisa gue bagi, selebihnya adalah pengalaman yang hanya bisa dirasakan oleh hati dan sulit untuk dibagi.
Mudah-mudahan kita semua bisa menjadi pemimpin dan mengarahkan makmum kita menuju ridho-NYA.
Emotional Spiritual Quotient
Ada yang pernah ikutan ga? share donk pengalaman spiritualnya.. *berasa banyak yang baca blog ini
Lagi butuh yang beginian, sebelum tanduk merah di kepala gue makin tumbuh.
===========================
Membaca buku ini, seperti menguak tabir rahasia tentang adanya korelasi yang sangat kuat antara dunia usaha, profesionalisme dan manajemen modern, dalam hubungannya dengan intisari Islam, yaitu Rukun Iman dan Rukun Islam. Pemahaman dan pendalaman kedua unsur inti ini, telah melahirkan sebuah pemikiran baru yang segar yang dinamakan ESQ atau Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Penulis buku ini, Ary Ginanjar, adalah seorang pengusaha muda yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal mengenai keagamaan atau psikologi. Ia mendalami bidang keagamaan dengan mandiri melalui metode “kemerdekaan berpikir”. Dalam buku ini, ia berusaha menggabungkan Emotional Intelligence (EQ) yang didasari dengan hubungan antara manusia dengan Tuhannya (SQ), sehingga menghasilkan ESQ: Emotional and Spiritual Quotient. Ary Ginanjar memaparkan pemikirannya melalui sebuah ESQ Model, yang menggambarkan seluruh pemahaman dan fenomena secara komprehensif. Bermula dari titik fitrah, berlanjut kepada pembangunan prinsip hidup yang membangun mental, hingga ketangguhan sosial yang dirangkumkan secara berintegrasi.
Buku ini terdiri dari empat bagian yang masing-masing memaparkan mengenai unsur-unsur yang terdapat pada ESQ Model. Pada bagian satu ( Zero Mind Process–Penjernihan Emosi), penulis mengharapkan pembaca dapat berpikir secara jernih terlepas dari belenggu pemikiran yang selama ini menghalangi kecerdasan emosi manusia. Hasil dari penjernihan emosi ini dinamakan “God-Spot” atau fitrah. Pada bagian dua ( Mental Building), Ary Ginanjar menjelaskan tentang arti pentingnya alam pikiran. Di tahap ini, penulis menjabarkan mengenai cara membangun alam berpikir dan emosi secara sistematis berdasarkan Rukun Iman yang diperkenalkan dengan istilah Enam Prinsip, yaitu:
Star Principle – Prinsip Bintang (Iman kepada Allah)
Angel Principle – Prinsip Matahari (Iman kepada Malaikat)
Leadership Principle – Prinsip Kepemimpinan (Iman kepada Nabi dan Rasul)
Learning Principle – Prinsip Pembelajaran (Iman kepada Al Qur’an)
Vision Principle – Prinsip Masa Depan (Iman kepada Hari Kemudian)
Well Organized Principle – Prinsip Keteraturan (Iman kepada Ketentuan Allah)
Pada bagian tiga (Personal Strength–Ketangguhan Pribadi), berisi mengenai penjabaran mengenai tiga langkah pengasahan hati yang dilaksanakan secara berurutan dan sangat sistematis berdasarkan Rukun Islam. Langkah ini dimulai dengan Mission Statement (Dua Kalimat Syahadat), dilanjutkan dengan Character Building (Shalat 5 Waktu) dan diakhiri dengan Self Controlling (Puasa). Dengan melakukan ketiga langkah ini, pembaca diharapkan dapat memiliki ketangguhan pribadi. Menurut penulis, ketangguhan pribadi perlu diimbangi dengan ketangguhan sosial yang dapat diwujudkan dengan pembentukan dan pelatihan untuk melakukan sinergi dengan orang lain atau dengan lingkungan sosialnya. Pelatihan yang diberikan dinamakan Strategic Collaboration atau Langkah Sinergi (Zakat) dan Total Action atau Langkah Aplikasi Total (Haji).
Inti dari buku ini adalah untuk menjadi seorang yang sukses, tidak hanya dibutuhkan intelegensi yang tinggi tapi juga kecerdasan emosi yang tidak hanya berorientasi pada hubungan antar manusia semata tapi juga didasarkan pada hubungan manusia dengan Tuhannya. Buku ini mensinergikan kebenaran ajaran Islam dengan penemuan ilmiah dan teori-teori dari para pakar ilmu pengetahun di “Barat”, khususnya ilmuwan di bidang EQ atau kecerdasan emosi.
Buku yang perlu dibaca, tidak hanya oleh kalangan agamawan atau ilmuwan tetapi juga oleh masyarakat umum. Dan hendaknya dijadikan bahan acuan pemikiran dan langkah bagi masyarakat Indonesia pada umumnya dan umat Islam khususnya demi kemajuan bangsa dan negara secara keseluruhan.
[source:http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=9&ch=buku&id=541]
